Kamis, 19 Juli 2012

Jauh


Kau tahu, sayangku... 
Saat jarak menyembunyikanmu dari mataku, jauh, waktu yang mengiringi seolah berubah menjadi pisau. 
Menyayat hati berkali-kali. Dengan sabar aku mengobatinya, membalutnya. 
Tapi terkadang nyeri yang terasa tak sanggup kutanggung sendiri. 
Dia mendesak, berlari menuju kepala, menciptakan mendung di sana. 
Terus menebal tanpa bisa kutahan lagi. Memberat, dan akhirnya menjelma air mata. Jatuh perlahan, mengelus lembut kedua pipi.

Kau tahu?

Kamis, 21 Juni 2012

Kehadiran

Setiap kita dihadirkan untuk suatu alasan
Pun, dari suatu alasan

Dalam hidup, apakah setiap mereka yang hadir di kehidupan kita butuh alasan? Jika tidak, lalu mengapa terkadang ada saja yang tiba-tiba hadir? Tanpa permisi. Tanpa pertanda. Seolah mereka ada begitu saja tanpa alasan. Tetiba telah ada di dekat kita, dalam hidup kita. Kadang hanya sepintas lewat, tapi ada juga yang hadir dalam waktu yang lama, bahkan ada yang tak juga pergi. Mungkinkah kehadiran mereka tidak dari alasan apapun, tapi mereka hadir untuk suatu alasan. Sementara dia yang hadir tiba-tiba itu mulai menjalani takdirnya, kita masih terus mengolahnya. Dengan tanya yang melompat-lompat di pikiran, juga dengan bermacam perasaan yang berkecamuk di ruang hati.

Dan di detik ini, aku tidak tahu. Belum tahu. Untuk apa engkau tiba-tiba hadir. Tepatnya hadir kembali. Setelah semua kuanggap usai. Setelah semua kurelakan. Setelah kini aku baik-baik saja dengan ketiadaanmu. Setelah aku merasa tak ada lagi alasan untukmu hadir dalam hidupku.

Lalu untuk apa kehadiranmu?

Jika yang ditakdirkannya adalah yang terbaik, apapun alasan kehadiranmu pasti juga baik. Semoga aku mampu menemukan alasan yang kan menjadikan hidup lebih bermakna, dan bukan alasan yang menjauhkan dari kenyataan, yang justru menjadi tabir dari kebenaran. Semoga.
---


Note : Pagi, dan mencoba memaknai sebuah kehadiran.

Selasa, 19 Juni 2012

Senyum

bila senyum adalah goresan warna-warni yang berlarian menuju mata
senyummu adalah indah lukisan yang terpindai darinya 
mengendap perlahan, diiringi nafas, kemudian diam di ingatan
rindu menjadikannya semakin jelas tergambar
di detik yang menggunungkan cinta, kerinduan justru menghadirkan ngilu
kemudian bersama waktu yang entah kapan berakhirnya
engkau berubah menjadi rasa kehilangan yang menghujam di jantungku

lalu, kemana aku harus mencarimu?

atau, hanya menanti jawaban sang waktu?
---


Senin, 21 Mei 2012

Hujan Senja Ini


Menyulam sepi pada tetes-tetes hujan senja ini, berharap gemericiknya yang serupa nyanyian semesta mampu menghibur diri.

Kau tahu, kekasih... Hujan tak pernah bertuan. Siapapun yang ingin bernyanyi dan menari di bawah rintiknya senantiasa dipersilahkan. Kemarilah, aku menunggumu menari bersamaku, berpelukan.

Sayang hujan tak selamanya bertandang. Sang waktu yang berjalan akan membawanya pergi, meski ia akan kembali, entah, pada waktu yang tak ia sebutkan pasti.

Dan kini, yang ditinggalkannya hanyalah potongan-potongan kenangan yang terus berjatuhan, juga ngilu rindu yang berdesakan, menginginkan sebuah kehadiran.
---
hujan dan kamu yang kembali berlarian di pikiran

Jumat, 18 Mei 2012

Balon

Pagi ini hati begitu bergemuruh, tentang kata yang gaduh, berdesakan ingin keluar.
Kucoba meredakannya, menata rapi setiap hurufnya dalam bisikan, perlahan-lahan meniupnya keluar, memasukkannya ke dalam balon-balon merah jambu.
Kuterbangkan balon-balon itu, membiarkannya dibawa angin.
Ke utara, timur, atau arah mata angin yang lain, entahlah.
Dengan tatapan cinta akan terus kupandangi.
Hingga ia terus meninggi.
Menghilang.
Aku tak tahu kemana takdir akan membawanya.
Mungkin akan tersangkut di pepohonan, selamanya diam di situ.
Mungkin akan meledak di tengah jalan, menghamburkan setiap kata yang kubisikkan di dalamnya, hingga jatuh berantakan tanpa arti.
Atau mungkin jatuh di beranda jantungmu.
Yang pasti, aku telah membisikkan seluruh perasaanku.
Tentang cintaku.
Tentang rindu yang terus memenjarakanku.
Semoga kau mampu mendengarkan setiap kalimatnya, dengan hatimu.
---
just wanna say, I love you, still...

Rabu, 16 Mei 2012

Diam Malam

Kemudian diciptakanlah malam, tempat matahari menitipkan terangnya pada rembulan, agar setia dijaganya meski dalam diam.

Dan terciptalah rindu di sepanjang malam yang berlalu, ruang tempat sebuah jejantung berdenyut cinta, meski tanpa kata dari bibirnya.

Adalah angin malam, dimana desir dan setiap pepohonan yang disapanya berbagi rahasia, tentang sepotong hati yang jatuh dalam cinta.

Dan langitpun bersekutu membisu di hitamnya, tak hendak membongkar sekatapun tentang ia, yang memuja lelakinya bersama diamnya.

Rindu Menjatuhkan Sesuatu Di Hatiku

Rindu menjatuhkan sesuatu di hatiku
Sepertinya itu ingatanku tentang dirimu
Kemudian ia pecah berderai
Kepingannya berserakan tanpa ampun
Terlempar menyesaki peparu
Meleleh lalu mengalir di segenap nadi
Menderas menuju kepala
Disana membelah tanpa henti
Terus membelah
Semakin banyak
Masih membelah
Tak tahu kapan akan berhenti...

Jika begini, mungkinkah aku melupakanmu?
---