Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

Kehadiran

Setiap kita dihadirkan untuk suatu alasan
Pun, dari suatu alasan

Dalam hidup, apakah setiap mereka yang hadir di kehidupan kita butuh alasan? Jika tidak, lalu mengapa terkadang ada saja yang tiba-tiba hadir? Tanpa permisi. Tanpa pertanda. Seolah mereka ada begitu saja tanpa alasan. Tetiba telah ada di dekat kita, dalam hidup kita. Kadang hanya sepintas lewat, tapi ada juga yang hadir dalam waktu yang lama, bahkan ada yang tak juga pergi. Mungkinkah kehadiran mereka tidak dari alasan apapun, tapi mereka hadir untuk suatu alasan. Sementara dia yang hadir tiba-tiba itu mulai menjalani takdirnya, kita masih terus mengolahnya. Dengan tanya yang melompat-lompat di pikiran, juga dengan bermacam perasaan yang berkecamuk di ruang hati.

Dan di detik ini, aku tidak tahu. Belum tahu. Untuk apa engkau tiba-tiba hadir. Tepatnya hadir kembali. Setelah semua kuanggap usai. Setelah semua kurelakan. Setelah kini aku baik-baik saja dengan ketiadaanmu. Setelah aku merasa tak ada lagi alasan untukmu hadir dalam hidupku.

Lalu untuk apa kehadiranmu?

Jika yang ditakdirkannya adalah yang terbaik, apapun alasan kehadiranmu pasti juga baik. Semoga aku mampu menemukan alasan yang kan menjadikan hidup lebih bermakna, dan bukan alasan yang menjauhkan dari kenyataan, yang justru menjadi tabir dari kebenaran. Semoga.
---


Note : Pagi, dan mencoba memaknai sebuah kehadiran.

Selasa, 10 April 2012

Jatuh (Cinta)

Mengapa disebut "jatuh" cinta? Mengapa jatuh, bukan kata yang lain. Melayang atau terbang barangkali. Mengapa jatuh, yang biasanya selalu diiringi rasa "sakit". Meski sakit tak selalu identik dengan sesuatu yang buruk. Sakit pun Tuhan berikan agar kita bisa belajar banyak dalam kehidupan ini. Begitu aku selalu meyakini.

Saat kau mulai jatuh cinta dan mencintai, salah satu konsekuensi yang akan kau tanggung adalah rasa sakit. Tak ada yang menginginkan rasa sakit, tapi itulah yang harus kau terima. Kau tak akan mampu mengelaknya, pecinta sejati harus berani menanggungnya. Menikmati dan kemudian memaknai rasa sakit itu.

Sakit yang kau rasakan bukan hanya disebabkan hati yang patah karena ditinggalkan, dikhianati, jatuh cinta bertepuk sebelah tangan, mencintai orang yang salah, dan seterusnya. Bahkan saat kau merindukan dia yang kau cintai, sakit itu bisa kau rasakan. Sakit, lebam dihantam rindu di setiap detiknya, ngilu di sekujur hati. Seperti yang kurasakan malam ini. Padanya.

Yah, mungkin itu kenapa mereka menyebutnya "jatuh" cinta. Saat kau terjatuh dalam cinta, mencintai, "sakit" itu akan mengiringi.

Note :
Dear... Merindumu tak pernah sesakit ini. Kau rasa-kah?

Jumat, 23 September 2011

Mengecup Luka

Jejak-jejak sunyi tertinggal bersama waktu yang terus meluruh. Setiap jejak telah memenuhi takdir yang digariskan-Nya. Terkadang ada tangan yang menuntun, juga hati yang mau mendengar. Tapi tak ada yang benar-benar mengerti, sedalam apa luka yang tergores saat takdir menggariskan jejak berlumur duka. 

Begitupun aku. Tertatih menapakinya. Terkadang senyum yang menghiasi bukanlah yang sebenarnya. Senyum hanya menjadi wakil dari kata-kata yang enggan mengumbar luka. Bagaimanapun luka bukanlah benih yang patut disebar kemana-mana. Tumbuh di sembarang tempat yang mungkin saja justru mengganggu dan menimbulkan masalah bagi orang lain. Menanamnya di dalam ladang hati sendiri dan menikmati sendiri bunga laranya adalah pilihanku. Tapi terkadang hati tak mampu menampungnya lagi, saat luka begitu subur tumbuh di dalam hati. Akarnya menjalar tak terkendali, mendesak, menghimpit kekuatan yang tersisa dalam sesak. Menghadirkan ketidakberdayaan yang sempurna.

Disinilah langkah sampai pada titik batas kemampuan menyimpannya. Tersadar dalam sunyi bahwa sebenarnya "aku tidak baik-baik saja". Air mata menjadi begitu rajin mengalir, memberi kabar pada bumi atas ketabahan yang mulai ingin beranjak pergi. Dalam kesunyian mengalir diam-diam. Sendiri. Tak seorangpun mengetahui. Tapi cerita-cerita lain yang juga diberikan-Nya segera menyekanya. Mengeringkannya. Begitu berulang : Menangis sendiri, mengering sendiri.

Menyadari sepenuhnya, bahwa sebenarnya apa yang kita rasa hanyalah sejauh apa yang kita pikirkan. Begitulah hidup. Aku hanya harus mencoba mengerti. Melihat dari sisi lain. Dan bukan hanya terpaku pada luka. Segala perih silahkan datang. Tak peduli aku akan tetap melangkah menerjang. Akan kukecupi semua luka. Menjaganya hingga perih tak lagi terasa. Akan kubagi ruang dalam jiwaku untuknya, menapaki tiap serpihan hidup bersamanya. Tak akan kupaksakan dia berlalu. Karena aku tahu akan tiba masanya dia sendiri yang akan beranjak pergi. Aku hanya harus terus mengecupinya, membalutnya hingga luka itu mengering. Tak ada yang tahu kapan saat itu tiba, begitupun aku. Tapi aku akan bersabar. Terus menemani lukaku, terus mengecupi lukaku. Tak perduli ada yang menyempatkan hati untuk mengerti atau berpaling pergi. Takdir adalah kesunyian masing-masing, dan aku tak keberatan dengan semua ini.

Akan tetap kujalani hidupku. Menggapai segala impianku. Meski di ruang hati yang lain luka masih ada mengiringi. Menyadari dan mengerti apa yang diinginkan-Nya dalam hidup, dan berusaha mewujudkannya dengan setiap tetes keringat dan darah yang mungkin kupersembahkan, itu sudah cukup.

Senin, 25 Juli 2011

Seperti Senja


Cinta itu terkadang seperti senja. Datang sekejap dengan segala keindahannya, kemudian berlalu pergi. Kepergiannya yang begitu cepat meninggalkan kehilangan pada hati yang telah terpaut. Tapi apalah artinya senja yang berlalu, jika dalam hatimu kamu meyakini, esok sang hari akan menghantarkan senja yang lain datang kembali. Apalah artinya sebuah kehilangan, jika kamu memiliki harapan akan menemukan seseorang yang lain di waktu nanti.

Mungkin kehilangan seseorang hanya seperti senja yang menghilang dijemput sang malam. Hanya soal waktu, senja yang lain akan datang menghampirimu. Kembali memberikan keindahan seperti yang pernah kamu rasakan. Atau bahkan mungkin jauh lebih indah.

Yah, hanya begitu. Kehilangan hanya seperti senja yang berlalu.

Selasa, 12 Juli 2011

Perpisahan

Setiap perpisahan adalah awal pertemuan yang baru. Seseorang yang baru. Hati yang baru. Tak tahu dengan siapa. Tapi yang jelas pasti akan ada pertemuan. I do believe that. Bahkan sampai sekarang.

Kehilanganmu akan seseorang sebenarnya yang menghantarkanmu menemui orang lain pula. Begitu seterusnya di setiap kehilangan, selama nafas masih Dia berikan, selalu ada pertemuan. Jadi sebenarnya kehilangan itu tak ada. Sakit karena kehilangan itu pasti. Dan mungkin berdarah. Tapi percaya, akan banyak pertemuan yang membalutnya. Menyembuhkannya.

Menangis karena perpisahan itu biasa. Bahkan sangat manusiawi. Tapi terus menangisinya sepanjang waktu itu bodoh. Selalu ada pertemuan setelah perpisahan. Mengapa tidak berbaik sangka saja kepada-Nya : "Mungkin Dia menginginkan aku bertemu hati yang lebih cantik lagi". Bukankah itu terdengar lebih indah. Lebih dewasa. Yang harus dilakukan hanyalah bersabar dan menanti kejutan dari-Nya. Kejutan justru akan membuat warna hidupmu lebih menggairahkan bukan. Menanti dengan debar. Menebak-nebak. Dimana belahan hati.  Heii… mungkin dia adalah yang berpapasan denganmu pagi ini. Who knows ?

Saat pertemuan itu dihadirkan-Nya, itu adalah skenario terbaik dari-Nya. Saat yang dipersiapkan-Nya untukmu. Akan terjadi mengalir. Begitu saja. Tanpa kau sadari kau akan lupa perpisahan yang telah terjadi. Melupakan kehilangan. Jika demikian, mengapa tidak berkemas dari sekarang. Pakai gaun terindahmu. Dia ada di sana. Di ujung "nanti". Mungkin dengan selusin mawar di tangan. Hhmm… Aku suka mawar…

Buat yang menantikan "pertemuan" : Good luck…^_^

Rembulan Dan Matahari

Rembulan dan matahari, mereka tak pernah berada di langit yang sama dalam satu waktu. Tapi tahukah kamu ? Mereka sebenarnya saling mencintai. Saling menyayangi. Begitu mencintanya rembulan pada matahari setiap hari diteteskannya rindu pada sang embun. Agar saat fajar tiba matahari mengerti bahwa rembulan selalu merindukannya. Begitupun matahari, dititipkannnya berjuta sinarnya kepada bintang, untuk menemani rembulan di malam hari. Berharap rembulan tak pernah kesepian meski tanpa dirinya disisi. Mereka melakukannya berulang-ulang. Tak ada bosan. Hanya ada cinta dan rindu.

Aku menyebutnya Cinta Sejati. Bagaimana tidak. Meski tak mungkin bersama, mereka tetap mencintai. Tetap saling merindu. Saling menjaga. Saling mengingat. Dan aku percaya merekapun saling mendoakan. Itu yang terindah. Doa itu semacam pelukan. Terus mendoakan berarti terus memeluk. Bahkan itu tak terbatas waktu sekalipun. Kapanpun mereka bisa saling mendoakan. Kapanpun mereka bisa memeluk. Di titik ini mungkin kebersamaan menjadi tak perlu lagi. Karena tanpa bersamapun mereka tetap bisa menunjukkan rasa cintanya lewat doa. Memeluk sepanjang waktu. How sweet…

Dalam kehidupan sepasang dua anak manusia diluaran sana, mungkin banyak yang seperti mereka. Atau paling tidak adalah beberapa. Saling mencintai tapi tak bisa memiliki. Tapi adakah yang seperti mereka : meski tak bisa bersama tapi tetap saling menghormati dan saling menjaga. Saling mendoakan untuk kebahagiaan yang lainnya. Mencintai berarti merelakan yang dicintai bahagia. Disini memiliki menjadi tak mutlak lagi. Ada yang lebih penting, yaitu kebahagiaan orang yang dicintai. Idealnya begini, “saling jatuh cinta dan bersama”. Tapi ideal menurut kita belum tentu ideal menurut Dia bukan ? Yang diberlakukan-Nya selalu benar. Dia Maha Benar. jadi mengapa kita tak menurut saja dengan apa yang telah diberlakukan-Nya. Sepertinya itu lebih mudah daripada tak puas atau menyesali.

Rembulan dan Matahari. Jika engkau seperti mereka, mampukah engkau bersikap seperti mereka juga? I hope so…
---

Heii, matahari. Aku mencintaimu. Lebih dari dalam. Hingga sepenuh hatiku - Rembulan

Senin, 11 Juli 2011

Akhir

Akhir itu biasa.

Sesuatu yang habis. Sesuatu yang akan segera terkubur oleh waktu. Seperti detik terakhir saat kopi tak tersisa lagi dari cangkirmu. Seperti detik terakhir kamu menonton film. Seperti detik terakhir piknik yang kamu lakukan karena harus pulang. Seperti indahnya senja yang harus berlalu karena harus digantikan malam.

Kehidupan sebenarnya membiasakan kita untuk menerima sebuah akhir. Tak ada yang abadi. Ada saatnya memulai. Tapi ada saatnya juga menerima akhir. Itu semacam hukum alam. Dan suka atau tidak kita harus menerima..

Tapi kadang kita tak siap menerima sebuah akhir.

Masih saja melihat ke belakang. Masih saja ingin menikmati. Masih saja menginginkan. Dan keinginan-keinginan itu justru berubah menyakitkan saat apa yang di inginkan tak di dapatkan. Kita lupa bahwa akhir juga adalah kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki-Nya adalah yang terbaik untuk kita. Dia Maha Tahu, sedangkan kita tidak. Lalu mengapa tidak kita pasrahkan saja kepada-Nya. Dia Maha Tahu yang terbaik untuk kita. Bahkan jika itu sebuah akhir.

Heloo... Waktumu telah habis. Saatnya mengakhiri. Saatnya melepaskanmu. Kita telah sampai pada sebuah titik. Dan tak ada kalimat yang akan melanjutkannya.

***

"Saat kita belajar memulai sesuatu seharusnya kita juga belajar mengakhirinya. Itu caramu agar kau mampu berkata 'ikhlas' untuk sebuah akhir"


Minggu, 10 Juli 2011

(Mencoba) Berdamai

Terpikir. Mengapa Dia mengirimmu kembali. Saat aku sudah baik-baik saja. Saat langkahku telah jauh meninggalkan masa kita. Masa yang tahun-tahun setelahnya begitu sulit ku hapus dari ingatan. Meski aku berhasil melewatinya, masa itu tetap membekas. Seperti halnya bila kau terjatuh, mungkin darah tak lagi menetes. Juga sakit tak lagi terasa. Tapi bekas luka itu akan tetap ada. Mengingatkanmu selalu : Bahwa kamu pernah jatuh. Begitupun kisah kita. Iapun juga membekas. Di hatiku.

Lalu, kehadiranmu seperti membuka luka lama. Kembali sakit. Tapi, hanya itukah alasan-Nya mengirimmu kembali untukku ? Untuk sebuah rasa sakit ? Dia Maha Penyayang. Sakit bukanlah tujuan-Nya. Sakit hanyalah jalan-Nya agar aku belajar sesuatu. Bukankah begitu hidup ? Selama kehidupan masih diberikan-Nya selalu ada alasan untuk belajar. Dari apapun. Dari siapapun. Termasuk juga belajar dari rasa sakit karena kehadiranmu kembali.

Sakit yang hadir kembali, mungkin menunjukkan bahwa sejatinya aku belum sepenuhnya mampu berdamai dengan masa lalu kita. Tak mudah memang. Butuh hati yang besar. Butuh hati yang luas untuk mema'afkan. Mungkin aku harus mencontoh langit. Betapapun badai menghitamkan dirinya, tapi langit selalu mampu kembali membening. Kehadiranmu mungkin adalah cara-Nya mengajariku untuk berdamai dengan masa lalu. Mengajariku bagaimana mema'afkan yang sebenarnya. Mengajariku untuk ikhlas. Mengajariku tentang ketulusan. Yah, aku yakin itu.

Heiii, kau... Aku tak keberatan kau hadir kembali dalam hidupku. Bantu aku mengenyahkan "si sakit hati" dari jiwaku. Ia yang menyebabkanku jalan di tempat. Terikat dengan masa lalu. Membuatku sulit menghadirkan keikhlasan dalam diriku. Bantu aku berdamai dengan masa lalu kita. Bahwa segalanya yang lalu telah berakhir. Bahwa aku kini memiliki kehidupan yang jauh lebih indah.

Mungkin aku belum sepenuhnya mampu berdamai dengan masa lalu itu. Tapi aku akan mencoba. Janji.
---

Make peace with your past so it won't destroy your present
-Paulo Coelho-

Sabtu, 09 Juli 2011

Jendela

Jendela, kamu itu teman. Kamu selalu ada saat aku kesepian. Menemani dengan tatapan beningmu. Mungkin itu mengapa aku begitu betah di dekatmu. Duduk berlama-lama di depanmu. Saat malam turun, dan tak banyak yang bisa aku lakukan, aku selalu menemuimu. Dengan terbuka kau menerimaku. Kamu biarkan kedua tanganku bertumpu di badanmu yang kokoh. Membiarkan aku menikmati malam selama yang aku inginkan. Dan hebatnya meski berjam-jam tanganku menekan tubuhmu, tak ada keluhan dari bibirmu. Dengan sabar kamu menemaniku. Begitupun saat pagi menjelang. Aku kembali menemuimu. Dan dengan setia kamu mengawasiku menghirup wangi pagi. Begitulah. Kamu selalu ada untukku. Kapanpun aku mau.

Sepertinya aku harus belajar darimu. Kamu begitu terbuka. Begitu setia. Meski terkadang aku sibuk seharian, tapi kamu tetap menantiku.

Kamu begitu kokoh. Tegar. Sabar menerima panas matahari yang menusuk. Juga tak pernah ada amarah saat kaki-kaki hujan berlarian di kayumu. Membuatmu melapuk dan terluka.

Kamu begitu pendiam. Tak banyak bicara. Hanya kadang kacamu yang bening seperti mengatakan sesuatu saat hujan atau angin menyapamu. Aku tak tahu pasti apa yang kamu katakan. Mungkin bahasa jendela. Mungkin kamu menyapa hujan dan angin dengan salam mesra. Aku bahkan percaya kamu merangkai kata-kata romantis dalam salammu itu.

Kamu penjaga rahasia sejati. Kamu mengetahui hampir seluruh rahasiaku. Kamu tahu aku suka menangis diam-diam saat begitu merindukannya. Kamu juga tahu jantungku yang berdebar kencang setiap mendengar suaranya di telpon. Sedihku, bahagiaku, kamu sangat tahu. Sejauh matamu memandang ke dalam aku tahu kamu begitu mengerti aku. Tapi semuanya kamu simpan dalam diammu. Kamu bungkam. Kamu bisu. Menjaga rahasiaku.

Kamu itu pengertian. Kamu selalu tahu bagaimana membuatku nyaman. Tawamu yang lebar mempersilahkan semilir angin masuk ke dalam. Membuatku tertidur dalam kedamaian. Tapi kamu juga tahu kapan saatnya harus diam. Diammu yang menghangatkanku dari dingin yang menusuk. Menjagaku dari kebekuan.

Kamu juga penghibur yang hebat. Saat sunyi menghampiri, kamu ajak aku mendengarkan cerita angin tentang hari ini. Saat aku sedih kamu tunjukkan senja yang mengerling indah. Juga rembulan yang cahayanya menetes menghibur hati yang lara. Kamu tahu, yang kamu lakukan benar-benar menghiburku. Membuat hatiku kembali merah jambu.

Jendela, kamu bukan hanya teman. Kamu mengajarkanku banyak hal.

Terimakasih.

Senin, 27 Juni 2011

Berjalan

Terbangun. Dan tiba-tiba saja semua yang belum terselesaikan kemarin mulai masuk ke kepala. Memenuhi pikiran. Membuat pagimu menjadi terasa berat. Pernah merasa begitu ? Jika sudah begini, yang diperlukan adalah udara segar. Keluar. Berjalan. Mencoba menghilangkan sesak yang mulai membeban.

Berjalan. Sepertinya hanya aktivitas simple. Tapi buatku lebih dari sekedar simple. Bukan hanya sekedar menggerakkan kaki belaka. Berjalan memiliki konsep maju, bergerak, dinamis, berubah. Saat kamu berjalan, itu artinya kamu ingin berubah. Bukannya stuck. Dan berubah di sini tentunya untuk yang lebih baik. Entah itu suasana dan pikiran, seperti aku pagi ini, atau mungkin berubah untuk hati dan dirimu sendiri.

Aku tidak suka keramaian. Mungkin itu mengapa aku lebih suka berjalan saat pagi hari. Saat belum banyak aktivitas di sekitarku. Akupun bebas menghirup udara yang ditawarkan pagi. Membuatku lebih tenang. Udara yang kuhirup kemudian kuhembuskan kembali pelan-pelan seperti ikut membawa pergi pikiran-pikiran yang menggangguku pagi ini. Melepaskannya ke udara bebas. Dan menggantinya dengan pikiran-pikiran positif bersamaan udara yang kembali kuhirup.

Terus berjalan berarti terus maju. Apapun yang menghalang. Tak perduli batu dan jalan terjal yang menghalang. Ini artinya kamu memiliki ketetapan hati untuk terus maju dan berjuang. Bukankah begitu hidup ini. Tak perduli apapun yang terjadi hidup harus terus berlanjut. Dan bukannya terjebak pada masalah yang mengganggumu. Terus berjalan, mencari jalan keluar, menemukan pilihan-pilihan yang pada akhirnya mampu mengurai masalah yang mulai mengkusut di pkiranmu.

Berjalan dan kembali jatuh cinta pada pagi, membuatku lega. Paling tidak resah yang membebani pikiran mulai terlepas. Hidup terlalu singkat untuk hanya di isi dengan keluhan atas masalah yang membebani. Terus berjalan dan melangkah, mencoba menghadapi apapun yang menghadang, itu yang akan membuat kita lebih tangguh menghadapi belantara kehidupan ini.

Hei kamu... Temani aku berjalan pagi ini ya...

Jumat, 24 Juni 2011

Kekuatan Cinta

 Kalau sudah ada cinta disisimu. Semua kan jadi enteng.
Dan semua yang ada diatas tanah. Hanyalah tanah jua. ~ Imam syafi'i

Kekuatan cinta. Itu yang terpikir di benakku saat membaca kutipan Sang Imam. Cinta sanggup merubah kita menjadi apapun. Melakukan apapun. Begitu hebatnya kekuatan cinta. Sanggup membuat Qais majnun karena cintanya pada Laila. Sanggup membuat Yuliet mengorbankan dirinya sendiri demi Romeo. Atau mungkin kamu punya kisah milikmu sendiri. Cinta yang sanggup membuatmu melakukan apa saja. Bahkan hal-hal teraneh dan tergila sekalipun. Itulah kekuatan cinta.

Kekuatan cinta sanggup  membawa kita kepada kebaikan yang indah. Cinta dengan kekuatannya sanggup membuat seorang hamba memaksa diri bangun di sepertiga malam terakhir dan meninggalkan hangat selimutnya demi menemui cinta Khaliq-nya. Cinta dengan kekuatannya sanggup membuat seorang ibu memberikan air susu dan darahnya demi cahaya mata yang telah dilahirkannya. Cinta dengan kekuatannya sanggup membuat seorang ayah meneteskan keringat demi sebentuk senyum keluarga yang di kasihinya. Cinta dengan segala kekuatannya sanggup membuat seorang pecinta  mengorbankan segala yang dimilikinya demi dia yang dicintainya. Tanpa kekuatan cinta seorang pecinta tak akan pernah melakukan semua itu.

Seperti mawar, dibalik kelembutan dan keindahannya, cinta juga memiliki kekuatan untuk melukai, seperti halnya duri mawar. Terkadang kita begitu terbuai dengan lembut dan indahnya, hingga tanpa disadari telah tertusuk, terluka , dan berdarah. Jika cinta adalah sebuah ujian dari-Nya, disinilah kedewasaan kita di uji. Apakah luka yang ditimbulkannya sanggup membuat kita menjadi pribadi yang membijak. Atau sebaliknya, hanya meninggalkan sekedar luka yang tak berarti.

Semoga bisa belajar. Dari kekuatan cinta.

Kamis, 23 Juni 2011

Patah

  • Saat hati patah, dia ingin belajar membijak. Biarkan dia patah. Biarkan dia membijak. 
  • Saat hati patah, letakkan di tangan-Nya. Dia Maha Tahu yang terbaik untukmu. Pasrahkan 
  • Saat hati patah, pelan-pelan akan tumbuh sayap. Sayap yang akan mengajarimu terbang di ketabahan.
  • Saat hati patah, akan ada jembatan yang menunggumu saat kamu terus melangkah. Jembatan yang akan membawamu menuju hati yang lain. Hati yang lebih mencintaimu.
  • Saat hati patah, kamu akan lebih mengerti arti memiliki.
  • Saat hati patah, kamu akan belajar tentang arti kehilangan.
  • Saat hati patah, hatimu akan belajar untuk tumbuh. Tumbuh lebih kuat dari sebelumnya.
  • Saat hati patah, kamu boleh menangis. Tetes air matamu pelan-pelan akan membersihkan lukamu.
  • Saat hati patah, kamu belajar melepaskan. Disitu kamu akan semakin mengerti tentang keikhlasan.
  • Saat hati patah, tetaplah mencinta. Kamu akan belajar arti ber-besar hati.
  • Saat hati patah, teruslah mendoakannya. Doa-doamu akan membalut luka hatimu.
  • Saat hati patah, datanglah padaku. Aku akan memelukmu. Membantumu menyembuhkan sakitmu.

    Hati yang patah, kamu tidak sendirian.




Senin, 20 Juni 2011

Bicara Cinta

Bicara cinta tak pernah ada habisnya. Selalu menarik. Paling tidak buatku. Meski saat membicarakan cinta kita hanya menyentuh kulitnya saja, tapi tetap saja menyenangkan. Tak pernah pasti tentang definisi cinta. Aku lebih suka memaknainya menurut apa yang aku rasakan. Tapi bukankah begitu adanya, cinta lebih indah saat kamu merasakannya...

  • Cinta adalah saat kamu bertemu dengannya tiba-tiba perutmu mulas, jantungmu berdetak lebih cepat dari yang seharusnya, dan pipimu terasa panas karena malu bercampur bahagia.
  • Cinta adalah saat kamu mengingatnya, kerinduan diam-diam memenuhi hatimu. Ingin melihatnya. Meski hanya dari kejauhan, itu cukup .
  • Cinta adalah saat kamu menginginkan dia menjadi orang terakhir yang kamu lihat sebelum tidur dan menjadi orang pertama yang kamu lihat saat kamu kembali membuka mata.
  • Cinta adalah saat kamu menginginkan dia yang menggenggam jemarimu saat kesedihan menyapamu. Memberi kekuatan lewat genggamannya. Membuatmu lebih tegar.
  • Cinta adalah saat dia pergi, kamu terus menatap punggungnya, dan saat dia menghilang dari pandanganmu separuh hatimu ikut menghilang bersamanya.
  • Cinta adalah saat di dalam doa-doa yang kau panjatkan tak pernah sekalipun kamu alpa menyebut namanya.
  • Cinta adalah saat kamu bisa mengerti dan memahami segala kekurangannya tanpa kata "seandainya".
  • Cinta adalah saat kamu tak perlu mengkhawatirkan hari esok karena kamu tahu dia selalu ada di dekatmu.  Menemanimu.
  • Cinta adalah kamu masih memafkannya meski berkali-kali dia membuat hatimu luka.
  • Cinta adalah saat kamu turut menangis ketika melihatnya terluka.
  • Cinta adalah kamu begitu mengingat setiap detail yanga ada pada dirinya. Bahkan bagaimana caranya menyentuhmu.
  • Cinta adalah saat kamu ingin menghabiskan seluruh sisa hidupmu bersamanya. Hanya bersamanya.
---
Cinta adalah, kamu...

Minggu, 19 Juni 2011

Move On

Pernah merasa begitu sulit pergi dari masa lalu ? Masa lalu yang melukai. Pergi dari seseorang yang telah meninggalkan sakit. Semakin kuat keinginanmu untuk melangkah pergi, tapi seolah masa lalu itu menarikmu kembali. Membuatmu terjebak. Seperti lingkaran yang tak berujung, kamu hanya berputar-putar di masa lalu itu. Tak mampu pergi dan menjauh.

Saat kamu menginginkan pergi, jangan masukkan semua kenanganmu bersamanya kedalam koper hatimu. Kamu harus memilah-milahnya. Pilih kenangan indah yang membuatmu tersenyum. Membuatmu bahagia. Lipat dan letakkan rapi di koper hatimu. Kamu boleh membawanya sebanyak yang kamu inginkan. Dengan membawanya maka kamu akan semakin pandai bersyukur.

Untuk kenangan yang membuatmu menangis dan terluka tak perlu kau bawa. Tinggalkan. Kamu tak membutuhkannya. Saat kamu tak mau meninggalkannya dan tetap membawanya pergi bersamamu, kenangan itu hanya akan membuatmu semakin berat melangkah. Membuatmu sulit pergi.  Tinggalkan dan biarkan usang. Menghilang di makan waktu. Disini kamu belajar arti melepaskan. Belajar mengerti tentang keikhlasan. Tanpa itu kamu akan sulit pergi. Tetap membawanya hanya akan menyusahkanmu. Membebani sepanjang perjalananmu di kemudian hari. Atau bahkan mungkin akan membuatmu membayar lebih mahal lagi.

Good luck ! Semoga perjalananmu semakin mendewasakanmu.
---

"Saat kamu belajar melepaskan seseorang yang kamu cintai, sesungguhnya kamu juga belajar tentang keikhlasan dan ketulusan cinta yang sejatinya"

Jumat, 17 Juni 2011

Seperti Sepatu

Ada tipe perempuan yang mencintai seperti sepatu.

Seperti sepatu, dia tak pernah berteriak meski terinjak. Semua di telannya sendiri. Suka, bahagia, sakit, bahkan air mata. Tak banyak berkata. Semua rasa dinikmatinya. Tanpa keluhan sepatahpun yang keluar dari bibirnya.

Seperti sepatu  yang tak pernah pergi berlalu meski si pemilik berkaki bau, begitu juga dirinya. Segala kekurangan diterima. Dia mengerti benar apa arti "nobody perfect". Cadangan toleransinya tinggi. Dia sangat memahami segala kekurangan orang yang dicintainya. Dia mencintai dengan penuh. Lengkap dengan segala kekurangan yang ada.

Seperti sepatu, dia sangat setia. Mengikuti kemanapun. Di jalan berbatu, aspal yang licin, bahkan comberan sekalipun. Apapun yang dikatakan dan dilakukan orang yang dicintainya, dia mengamininya. Tak ada kata menolak. Baginya itu wujud dan bukti cintanya.

Seperti sepatu, dia rela tersingkir demi sepatu lain yang hadir. Yang lebih baru. Lebih bagus. Tak ada kata protes karena perhatian padanya berkurang. Mulai jarang dikenakan. Dia cukup bahagia dengan melihat orang yang dicintainya bahagia. Dan itu yang paling penting baginya.

Tak tahu apa yang kamu pikirkan tentang dia. Mungkin kamu menganggap dia bodoh. Terlalu Cinta. Cinta buta. Dan seterusnya. Atau justru sebaliknya, kamu berpikir dia adalah seorang pecinta sejati. Yang sanggup berbuat apa saja demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Meski untuk itu dia harus menggigit perasaannya sendiri. Tapi apa urusan kita. Dia yang merasa. Dia yang menjalani. Jika dia rela dan bahagia dengan semua itu, apapun pendapat kita tak ada artinya lagi baginya. Ini hidupnya. Miliknya. Terserah dia, bagaimana caranya mencinta. Bahkan jika harus seperti sepatu.

Pernah bertemu perempuan seperti itu ? Atau mungkin justru kamu sendiri perempuan itu.

***

Kamis, 16 Juni 2011

Lampu Merah

Cinta itu terkadang seperti lampu merah di persimpangan jalan. Ada saatnya kamu harus berhenti. Tahu kapan harus kembali melaju. Berhati-hati ketika lampunya menyala kuning mengingatkanmu.

Dalam hidup, terkadang cinta membawamu ke dalam persimpangan. Membuatmu bingung. Tak tahu pasti apa yang mesti di lakukan. Jika ini yang terjadi, tak ada salahnya diam mengambil nafas. Sejenak men'jeda'. Melihat tanda-tanda disekitarnya. Perhatikan lampu yang menyala. Belajar memaknainya. Dan pada akhirnya mengambil keputusan yang lebih bijak. Tanpa ragu dan buru-buru. Keputusan terbaik dari 'jeda' yang kamu lakukan.

Di persimpangan cinta, terkadang lampu menyala merah, memberi peringatan untukmu. Tanda kamu harus berhenti. Terus berjalan hanya akan menghancurkanmu. Menyakiti orang-orang di sekelilingmu. Dan yang pasti akan menyakiti dirimu sendiri. Cinta yang kamu temui kadang begitu. Tak selalu seperti yang kamu harapkan. Bertemu orang yang "salah" misalnya. Atau cinta terlarang. Berhenti. Mematuhi lampu yang menyala merah sepertinya lebih aman. Daripada terus melaju. Menabrak apa yang menghalang. Dan akhirnya terluka.

Lampu cinta menyala kuning tanda kamu harus berhati-hati. Kuning bisa jadi adalah persiapan untuk berhenti. Tapi bisa juga persiapan untuk terus melaju. Untuk itulah kamu harus benar-benar berhati-hati mengambil langkah. Jangan sampai salah duga. Bersiap melaju padahal sebenarnya harus berhenti. Dan sebaliknya. Jeda yang kau lakukan akan membantumu menentukan langkah. Memberitahumu.

Lampu hijau yang menyala terang, tanda kamu boleh jalan terus. Tak ada lagi penghalang. Jangan ragu ambil keputusan untuk maju. Atau seseorang lain akan mendahuluimu, dan lampu merah meyala di hadapanmu. Tak perlu bimbang. Itulah saatnya engkau ditemukan dan menemukan. Ditemukan seseorang yang tulus mencintamu. Dan menemukan seseorang yang sepenuh hati kau cintai. Jika saatnya tiba, dan lampu hijau menyala, pesanku untukmu : mencintalah dan bahagia.

Rabu, 15 Juni 2011

Berkaca

Berkaca. Mematut diri di cermin hati. Melihat kembali apa yang telah terlewati. Adakah hanya meninggalkan tapak tipis yang sekejap tersapu ombak kehidupan. Ataukah tertanam dalam dan membekas menjadi tapak yang mampu menopang diri melangkah menuju sinar kebaikan yang lebih terang lagi.

Berkaca. Menatap segala pantulan diri dengan hati jujur. Belajar menerima kekurangan diri. Bukan untuk menyesalinya. Tapi menjadikannya titik awal membuka diri. Melebur segala keangkuhan yang pernah di jalani.

Berkaca. Bertanya pada hati. Apa yang harus digenapi. Terus bertanya. Terus menggenapi. Tak henti hingga nafas berakhir mati. Dengan itu, aku harap hidup akan lebih berarti.

Semoga...

Minggu, 12 Juni 2011

Pahit

Jika kehidupan memberikan kita bermacam rasa, pahit adalah salah satunya. Pahit akan kau kecap manakala kecewa, sakit, luka, duka, cobaan, dan seterusnya tengah mewarnai jalan takdir yang tengah kau lalui. Rasa yang lebih sering menghadirkan perasaan tidak nyaman daripada sebaliknya. Sesuatu hal selalu memiliki dua sisi. baik dan buruk. Begitupun pahit. Tidak selamanya hanya tentang kepahitan. Tapi ada juga kebaikan yang tersembunyi di sebaliknya. Seperti obat. Ada kalanya berasa pahit, tapi akan kita dapati kesembuhan setelahnya.

Tanpa rasa pahit kau tak akan mengerti dan menghargai rasa manis. Tak mampu mensyukuri segala kebaikan yang telah diberikan-Nya.

Rasa pahit itu adalah cara-Nya menempa kita agar menjadi pribadi yang sabar, kuat dan tegar. Tanpa merasakan kepahitan kita akan terlena dengan kebahagiaan. Menjadikan kita lemah, dan saat cobaan datang tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Pahit adalah semacam keseimbangan dalam hidup kita. Hanya mengecap rasa manis akan mematikan empati kita. Tidak peka dengan ketidakberuntungan orang lain. Menjadikan kita sosok yang hanya mementingkan diri sendiri.

Pahit seringkali justru menyadarkan kita akan keberadaan-Nya. Menyadari kita lemah tanpa-Nya. Membutuhkan-Nya. Tak berdaya tanpa-Nya. Bukankah justru saat kepahitan mendera kita ingat pada-Nya. Kembali mendekat pada-Nya. Memohon kekuatan. Meminta jalan keluar. Dibanding pada saat manis yang kita kecap, kita justru melupakan-Nya.

Jika saat ini engkau merasa pahit. Itu bukan akhir segalanya. Tak perlu berputus asa dan merasa diri seolah sangat tidak beruntung. Ambil hikmah di sebaliknya. Itu yang akan membuatmu lebih dewasa. Semoga.

Kamis, 09 Juni 2011

The Simple Thing

Bosan. Rasa yang kerap mampir tanpa di undang. Tiba-tiba saja sudah berada di ruang hati dan mewarnainya menjadi kelabu. Dan yang lebih membuat tidak nyaman adalah saat rasa bosan itu betah di situ. Tak mau pergi. Bahkan berlama-lama. Ujung-ujungnya mengeluh. Itu hal termudah yang biasanya kita lakukan.

Rutinitas adalah salah satu penyebabnya. Mulai dari membuka mata hingga kembali terlelap, melakukan kegiatan yang itu-itu juga. Monoton. Berulang. Begitu setiap melewati hari. Semua seperti terprogram. Teratur berurutan. Yang kita lakukan menjadi sekedar menyelesaikan kewajiban. Harus bekerja. Harus makan. Harus pergi. Harus begini, begitu, dan seterusnya. Semua hanya sekedar kewajiban. Tak pernah menikmati apa yang sedang dilakukan.

Kapan terakhir kita terbangun dan mampu menikmati pagi. Merasakan angin pagi yang lembut mengecup pipi. Berjalan dengan kaki telanjang diatas rumput yang basah embun dan merasakan dinginnya menggelitik kaki. Mensyukuri hangat matahari pagi yang seperti pelukan. Kapan terakhir kali kita benar-benar menikmati apa yang kita makan. Bermacam rasa yang seperti membelai lidah dan tidak hanya sekedar melewatinya dan berakhir di perut. Rasa kenyang yang melegakan penuh kesyukuran. Kapan terakhir kali kita menikmati pekerjaan kita. Keikhlasan melakukannya demi senyum keluarga di rumah. Menikmati setiap kesulitan yang ditimbulkannya sebagai sesuatu untuk membangun diri lebih baik lagi. Kapan terakhir kali kita benar-benar menikmati tidur kita. Menyadari nikmatnya kasur empuk dan sprei bersih yang mungkin tak semua orang bisa menikmatinya. Kapan kita...

Bangun pagi, makan, bekerja , tidur, dan seterusnya, sebenarnya sesuatu yang biasa. Sesuatu yang simple. Tapi saat kita mampu menikmatinya akan menjadi sesuatu yang luar biasa dan terasa lebih istimewa. Saat kita mampu menikmatinya semua terasa lebih bermakna. Kita bukan hanya sekedar hidup tapi menikmati kehidupan. Itulah bahagia yang sesungguhnya. Jangan biarkan sesuatu yang simple justru kehilangan maknanya hanya karena kita tak mampu menikmatinya.



Minggu, 05 Juni 2011

Tombol F1

Pernah tidak merasa hidup itu begitu 'complicated'. Saking rumitnya tak tahu pasti apa yang mesti dilakukan. Bingung. Seolah semua serba menuju ke titik buntu. Kalau sudah begini, kadang berpikir, bagaimana seandainya dalam hidup ini ada tombol F1 seperti dalam komputer. Kamu hanya tinggal memencet tombol itu di keyboard, lalu muncul serentetan perintah yang memberimu cara menyelesaikan masalah selangkah demi selangkah. Kamu tinggal mengikutinya. Dan selesai. Masalahpun terpecahkan.

Hidup memang tak se-simple itu. Masalah ada bukannya tanpa alasan. Aku selalu merasa bahwa setiap masalah yang muncul sekarang dan kehidupan kita di masa mendatang memiliki benang merah. Saling berhubungan. Masalah di atur sedemikian rupa agar kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi. Lebih tangguh. Lebih kuat. Lebih tegar. Lebih bijak. Masalah menjadi semacam cara-Nya memberi sayap untuk kita agar mampu terbang lebih kuat lagi dalam medan kehidupan apapun juga. Semakin sulit masalah, semakin kita butuh tenaga dan pikiran untuk menyelesaikannya, maka semakin kita tertempa menjadi pribadi yang lebih unggul di kemudian hari. Bagaimanapun juga Yang Maha Kuasa telah mengaruniai kita akal pikiran. Dengan kata lain sebenarnya setiap masalah selalu ada jalan keluarnya asalkan kita mau berpikir.

Meski begitu, tombol F1 tetap bisa kita gunakan. Mungkin tak seperti dalam komputer yang hanya tinggal pencet. Tapi dengan berdoa. Itulah tombol F1 yang kita miliki dalam hidup ini. Doa selalu memberi kekuatan tersendiri dalam setiap masalah yang kita hadapi. Semua Dia yang mengatur, juga masalah yang kita hadapi, lalu mengapa kita tidak memohon pertolongan-Nya. Memohon petunjuk untuk jalan keluar yang terbaik dari-Nya. Setelah segala usaha yang kita lakukan doa adalah penguatnya. Tak ada yang tak mungkin bagi-Nya. So, jangan ragu menggunakan tombol F1 milikmu. Berdoa. Untuk apapun masalah yang mungkin tengah membelitmu.