Rabu, 28 Desember 2011

Seperti Magnet

Pernah aku berujar padamu, "kamu itu seperti magnet". Kau mengingatnya? Kau hanya tertawa saat itu. Aku masih jelas mengingatnya, terutama suara tawamu. Tawamu membuatku tiba-tiba merasa dihujani ribuan cahaya bintang, membuatku bahagia. Atau mungkin bukan suara tawamu yang membuatku bahagia. Aku bahagia karena merasa kamupun bahagia dengan keberadaanku, tawamu buktinya. Bagiku tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat orang yang kucintai tertawa bahagia. Itu yang terpenting, bahkan melebihi kebahagiaanku sendiri.

Bukan tanpa alasan aku mengatakannya. Seperti magnet kau selalu mampu menarikku mendekat padamu. Berkali-kali aku berusaha menjauh, berusaha melupakan, tapi aku selalu kembali jatuh padamu. Tak perduli kau melukaiku, membuatku menangis, pergi darimu hanya sebatas keinginan yang tak pernah mampu aku wujudkan. Hatiku, pikiranku, bahkan air mataku, selalu kembali menginginkanmu, kembali mencarimu, kembali mendekat padamu.

Kau tahu, medan magnet yang kau ciptakan itu bernama rindu. Rinduku padamu yang menarikku, mendekatimu. Rindu itu yang selalu berhasil merubah haluan langkahku yang ingin meninggalkanmu kembali berbalik arah menujumu. Tapi aku curiga, sebenarnya kaupun merinduku. Seperti gaya tarik menarik dua magnet, kerinduanmu menarik rinduku datang padamu. Juga seperti sekarang ini, aku begitu ingin memelukmu, begitu sesak merindukanmu. Heii... mungkin disana kaupun tengah merindukanku. Begitukah ?
---
Betapapun jauhnya langkah kakimu pergi meninggalkan orang yang kau cintai, 
kerinduan akan selalu menuntunmu kembali padanya
---

Selasa, 20 Desember 2011

Sebuah Rahasia

Setiap orang memiliki rahasianya sendiri-sendiri. Rahasia yang disimpan rapat, yang hanya ingin mereka bagi bersama kenangan. Dan kau tahu, kekasihku... "Kita" adalah rahasia terbesar milikku. Kita yang dulu pernah tertawa bahagia menyusuri cinta. Kita yang pernah menyulam rindu di dinding-dinding malam gulita. Kita yang saling mencari, saling menggenapi, saling menguatkan. Yah, kita...

Tapi, tak ada yang abadi di dunia ini selain keabadian itu sendiri. Kita yang bahagia tak lebih dari sepasang manusia yang terbuai mimpi. Baru menyadari setelah terbangun dengan luka dan air mata yang menderas di pipi. Bukan salahku, bukan juga salahmu. Bahkan bukan salah keadaan. Kita hanyalah seperti anak-anak burung yang sedang belajar terbang. Sayap-sayap kita begitu lemah dan tak terlatih. Luka yang akan menguatkannya, dan air mata yang akan mengajarinya. Membuat sayap-sayap kita kokoh, dan mampu membawa kita terbang tinggi di kehidupan ini.

Aku harap, meski tanpa aku di sisimu, kau tetap belajar mengepakkan kedua sayapmu. Capailah gunung yang tinggi, melayang, menikmati setiap bahagia yang ditawarkannya. Ada dia yang akan mengajarimu terbang sempurna. Bukan aku. Genggam erat tangannya, dan terbanglah bersamanya. Aku? Tak perlu kau hiraukan. Akupun pasti akan terbang. Tapi tidak sekarang. Luka-luka milikku terlampau perih. Jangan khawatir, Tuhan tengah membalut lukaku. Aku hanya butuh waktu dan terus bersabar.

Saat nanti kau melihatku lagi, meski air mataku kembali menderas, jangan pernah kau perdulikan aku. Kisah kita dan segala airmata hanyalah cara-Nya mendewasakan kita. Tapi satu yang aku ingin kau tahu, bulir-bulir yang menetes dari kedua mataku adalah bukti cintaku padamu yang tak pernah mengering bersama detik yang berlalu. Jika saat itu tiba, kau akan menyadari, cinta sejati itu benar-benar ada. Cintaku padamu. Cinta yang tak pernah menjeda oleh waktu, meski tidak ditakdirkan untuk bersatu.
 ---
Rahasia ini akan rapat kusimpan, dan hanya akan kubagi bersama kenangan...

Note : Dedicated to my bestfriend.
Tetap terbanglah tinggi, menjemput bahagia yang kau ingini. Doaku mengiringi.


Senin, 19 Desember 2011

Sebelum Aku Hampa

Malam, gerimis, dingin, dan sepi. Satu-satunya suara yang menemani hanya gemericik gerimis. Suasana yang tercipta membuat kerinduanku padamu semakin menggumpal, menyesaki dada. Keinginan memelukmu semakin tak tertahankan. Dan saat menyadari tak ada yang bisa kulakukan, tiba-tiba saja sepi telah menjelma menjadi hampa yang begitu menyakitkan.

Kau tahu, sayang... Saat hampa mulai menyergapmu, segala gaduh yang tergaduhpun tak mampu tercerna. Saat hampa berkunjung, tanpa mengetuk pintu, perlahan dia akan terus berjalan menuju hati dan mulai menancapkan kuku-kukunya di sana. Darah kepedihan mulai menyembur, perihnya mulai menyebar kesekujur jiwa. Bersama detik yang terus berlalu lama-lama kau akan letih yang teramat dan hampir mati rasa. Hujan dari matamu akan terus menderas di setiap menjelang lelapmu, dan nyanyian duka akan kembali mengalun di setiap matamu kembali terbuka dibangunkan sang matahari pagi.

Karenanya, kekasihku... 
Sebelum hampa menjeratku, kukemasi seluruh perasaanku, dan bergegas menujumu. 
Akankah kau menunggu di ujung nanti untukku? 


Minggu, 11 Desember 2011

Padamu : (11) Puisi Di Desember

barangkali seperti puisi yang mengakhiri luka
yang tercipta pada langit kenangan
dipenuhi perih yang kemudian memekat 
menjelma hitam sang mendung

barangkali pula seperti barisan kata cinta
untuk segala musim indah setelahnya
tak henti menetes seperti hujan desember
ditingkahi wangi bunga asmara

atau mungkin hanya kata tanpa makna
tak ingin memberi jejak yang berarti
seperti angin yang lalu membisu
menebarkan sunyi dan dingin

duhai tuan, kekasih hati...
pada puisi manakah cintamu ingin kau selipkan untukku?



Rabu, 07 Desember 2011

(Masih) Mencintaimu

Mencintaimu itu menyejukkan, serupa tetes hujan yang pertama kali jatuh setelah kemarau panjang. Mencintaimu itu menenangkan, serupa hangat matahari yang memeluk tubuh yang dingin dihampiri pagi. Mencintaimu itu menyenangkan, serupa gadis kecil yang berlari-lari di taman bunga mengejar kupu-kupu. Mencintaimu itu kepastian, sepasti detak jantungku yang berdetak memberi tanda kehidupan. Kau lihat, semestapun sepertinya sepakat denganku, cintaku padamu menggenapkan apa yang kosong di diriku. Membuatku kembali utuh, dipenuhi kebahagiaan.

Sejatinya, kita, dua jiwa yang saling membutuhkan, dua hati yang saling merindukan, dua harapan yang memiliki satu tujuan. Padamu, kutemukan asmara, sesuatu yang pernah hilang. Di hadapanmu aku pasrah tersimpuh, dihujani tatapan matamu yang serupa panah-panah cinta. Membiarkan panah-panah itu menghujam jantung dan jiwaku, dan pada akhirnya justru membangkitkan keinginanku untuk memilikimu.

Maka, di setiap hening malam aku memanjatkan doa kepada-Nya Sang Maha Pengabul Segala. Bahkan segala yang tak mungkin. Agar Dia mempersatukan nama kita di satu lingkaran yang dipenuhi cinta. Lingkaran yang hanya cukup untuk kita berdua dan bahagia kita. Aku tahu, terkadang Dia tak memberi apa yang kita pinta, tapi aku tak akan berhenti berdoa. Dengan seluruh air mataku aku akan memohon. Dia akan mengerti, memahami keinginanku. Mungkin yang akan diberikan-Nya tak sesuai harapanku, tapi Dia lebih tahu apa yang terbaik untukku, untukmu, untuk kita. Apapun yang dikehendaki-Nya, dengan segenap cintaku padamu aku akan mengikhlaskannya.
--
Aku perempuan yang sedang jatuh cinta. Malam ini kembali kuselipkan namamu di dalam bait-bait doaku yang basah air mata. Akankah Dia memenuhi apa yang kupinta...
--
Note :
Menyusuri kenangan, bertahun lalu, saat pertama jatuh dan mencinta, padamu... 

Kamis, 24 November 2011

Serupa Selembar Daun Yang Terakhir

hening
hanya reranting berdenting
beradu ditiup angin semilir
meluruh dedaunan
terhempas satu demi satu
jatuh menemui bumi
dan kesunyian kita
serupa selembar daun yang terakhir :
sepi
sendiri
menanti

Selasa, 22 November 2011

Perempuan Yang Ingin Mencintaimu Hingga Akhir Nafasnya

Perempuan itu begitu mencintaimu. Begitu jatuh padamu. Nafasnya selalu menghembuskan doa-doa tentangmu. Segala kebaikan dimohonkan untukmu. Memohon keselamatan dan kebahagiaanmu. Pernahkah kau memikirkannya, meski hanya sekejap? Jika kau memikirkannya, adakah juga kau simpan sebentuk cinta untuknya di hatimu?

Jatuh cinta padamu telah mengubah seluruh hidupnya. Tak ada hari yang berlalu tanpa semilir angin cinta. Bertiup mengelus jutaan mawar yang senantiasa mekar di hatinya. Cinta juga berpendar warna-warni menerangi malamnya. Membuatnya semakin hidup, meski gelap memeluk di sekitarnya. Sepertinya takdirnya memang tercipta untuk mencintaimu. Cintanya padamu seperti pohon yang ranting dan daunnya semakin membanyak, subur, berbuah cinta yang semakin manis dan ranum. Akar cintanya semakin kuat menancap. Dan selalu diulangnya sebuah janji akan selalu mencintaimu, untuk hal-hal yang selalu membuat dadanya di penuhi kupu-kupu, untuk segala yang membuatnya mengukir senyuman, ataupun segala yang membuat gerimis di hatinya.

Tahukah kau, seorang perempuan tak pernah main-main saat mencinta, dan perempuan itu ingin membuktikannya. Dia ingin sepenuh hati mempersembahkan cintanya. Dia tak akan berpura-pura dengan perasaannya. Terkadang dia menyembunyikan kesedihannya, karena yang diinginkkannya hanyalah agar kau tak terbebani dengan air mata yang diteteskannya. Tak ada yang salah dengan itu. Itulah cinta.

Yah, perempuan itu telah menetapkan hatinya untukmu. Mempersembahkannya hanya untukmu. Perempuan itu ingin mencintaimu hingga akhir nafasnya. Akhir hidupnya.

Perempuan itu, aku...


Sabtu, 19 November 2011

Lebih Dari Apapun

dan lebih dari apapun di jagat ini
aku hanya ingin menggenggam tanganmu
menyatukan setiap rasa yang singgah di benak kita di situ
mengajakmu ke tempat dimana cinta pertama kali menemukan kita
tempat dimana degup jantung kita berkejaran karena cinta
tempat dimana harapan begitu indah terangkai di sela kecupan mesra
tempat dimana wangi asmara tertinggal di setiap jejak langkah kita
tempat dimana bahagia berjatuhan serupa embun yang luruh dari dedaunan saat pagi tiba
tanpa harus terganggu lara yang terkadang diam-diam menyelinap diantaranya

dan lebih dari apapun sepanjang waktu yang berjalan
aku hanya ingin kau rengkuh dalam hangat dekapan
hanyut mengikuti aliran kedamaian yang tercipta dari hangatnya
menikmati setiap detik yang kau beri dalam hembusan bahagia
detik saat sentuhanmu menjelma puisi
detik saat suaramu membisikkan segala kalimat cinta
detik saat tatapanmu berubah desir sunyi yang memabukkan
detik saat aku begitu utuh tergenapi segalamu
detik-detik saat siang dan malam tak lagi ada bedanya untukku

gengaman tangan dan hangat dekapan
sanggup merangkum segala rasa
yang terkadang tak mampu disampaikan oleh kata-kata

Lelaki Hujan

Lelaki itu jatuh saat hujan turun. Jatuh menghujam bumi. Jatuh seperti hujan. Tapi tak seperti hujan, ia jatuh sendiri. Dan tak berdaya. Ketidakberdayaannya membuatku terpana.
Lelaki itu begitu berduka. Luka menganga di hatinya. 
Dengan menahan rasa sakit di sekujur jiwa, ditengadahkan wajahnya ke langit. Menantang hujan. Membiarkan hujan menusuk kulitnya. Seolah ia ingin hujan mengajarinya bagaimana menerima segala rasa sakit.
Yang dilakukannya membuatku jatuh cinta.
Lelaki itu meneriakkan puisi. Tentang cinta. Tentang rindu. Tentang hati yang patah. Tentang gelisah. Tentang dia yang pernah membuatnya bahagia.
Puisinya membuat hatiku ikut patah.
Lelaki itu terus berdiri di situ. Masih meratapi cintanya yang berlalu. Masih di dekap rindu. Masih meneriakkan puisinya yang sendu.
Aku masih terpaku di sini, dengan hati basah dan nyeri.
Lelaki itu tak pernah tahu aku jatuh cinta padanya. Meski ia terluka. Meski ia tak berdaya. Meski hatinya masih menginginkan dia yang telah menyakitinya.
Rintik hujan berbaur air mataku. Menghapus jejak langkahku yang diam-diam pergi berlalu.
Dan masih di tempat yang sama, pada detik yang beriringan dengan kepergianku, tetiba lelaki itu merasa kehilangan sesuatu, yang tak pernah ia mengerti apa itu.


Selasa, 15 November 2011

Padamu : (10) Jangan Kembali

Tuan, kehadiranmu telah menempati ruang di hatiku. Kau sendiri dan berkuasa di situ. Tapi sepertinya kau tak puas hanya diam di hatiku. Kemudian, perlahan tapi pasti bersama darah kau mengalir menuju kepalaku. Meninggalkan jejak-jejak gelisah yang terus berlompatan ke segala arah. Membuatku terus meresah.

Sesampainya di kepala kau membelah diri. Masing-masing kau terus membelah dan membelah tanpa henti. Semakin banyak. Beribu, berjuta, entah akupun tak sanggup lagi menghitungnya. Di hatiku kau memang sendiri saja, tapi di kepalaku kau begitu banyaknya, menguasai luas rasa tanpa sedikitpun menyisakan jeda.

Tanpa perduli kau terus membanyak. Seluruh kau memporak porandakan segalaku. Menghancurkan tubuh dan jiwaku. Memaksa air mata menemui pipi, lalu dengan perih menuju ke hati. Kemudian kau pergi. Tapi tak semua kau bawa berlari. Kau tinggalkan bayanganmu yang serupa belati terus menyiksa diri.

Bisakah kau jemput dia dan juga membawanya pergi? Tak ada lagi yang tersisa, semuanya telah kau miliki. Aku hanya ingin membenahi diri. Pergilah Tuan, bawa serta segalamu, juga bayanganmu. Dan kumohon jangan kembali lagi.

Sabtu, 12 November 2011

Biru

diantara kau dan langit, 
aku adalah hujan, 
yang senantiasa luruh dalam ribuan kerinduan

barangkali malam adalah tempat untukku,
menyembunyikan segala gerimis,
dari tatapan matamu yang serasa candu

cinta membuatku mampu menangkap bayanganmu,
di antara basah dedaunan,
yang tabah memeluk dingin angin malam

kesedihan telah menggigit kata-kata hingga tak berdaya,
tinggal sepiku yang kelu, biru, bisu,
mengalirkan perihnya dalam tetes air mata

tapi keabadian ternyata masih ada,
saat kuingat kedua lenganmu  yang mendekap hangat tubuhku,
erat tanpa jeda

kau semesra puisi-puisi cinta,
yang kusembunyikan lewat sentuhan-sentuhan kita,
kemudian abadi dalam ingatan

yang kumengerti hanya mencintaimu,
luka akan kunikmati,
sepi akan kujalani

kebahagiaan hanyalah tujuan,
dan kita terkadang hanya tak mampu,
menemukan jalan pulang
---

  dear, aku kangen...

Jumat, 11 November 2011

Padamu : (9) Gerimis

Gerimis begitu lembut terjatuh.

Membiarkannya membasahi tubuh kita. Dinginnya membuatmu semakin erat menggenggam tanganku. Aku suka. Tanganku menginginkanmu dengan sangat. Semakin erat kau genggam semakin ia tak ingin kau lepaskan. Dan tak ada satupun alasan untuk melepaskan genggaman darimu.

Kemudian kau menatap kedua mataku. Kau tak menyadari, bening di sana telah bercampur air mataku. Bahkan air matakupun begitu menginginkanmu. Aku menginginkanmu dengan sangat. Dengan segenap jiwaku. Dengan seluruh air mataku.

Kau terus menatapku. Tatapan yang hangat diantara dingin yang dibawa gerimis. Membuatku semakin terhanyut. Aku semakin jatuh cinta pada matamu. Sampai sekarangpun aku tak mampu menjelaskan mengapa aku memilih matamu, dan akupun tak mau memikirkannya. Jatuh cinta kadang begitu. Kau jatuh dan tak pernah mampu menjelaskan kenapa jatuh. Seperti aku jatuh cinta pada matamu, dan tak pernah tahu mengapa begitu.

Seperti tahu apa yang ada di benakku, kau bertanya, "Mengapa kau jatuh cinta padaku?" "Entahlah, mungkin seperti gerimis itu. Dia jatuh dan kita tak pernah tahu pasti mengapa ia jatuh." Yah, mungkin hanya sesederhana itu. Aku jatuh cinta padamu serupa gerimis yang begitu lembut terjatuh ke bumi. Hanya sesederhana itu.

"Aku tak mengerti, kamu aneh", katamu lagi, masih terus menatapku dengan tatapan hangat yang sama. Oh sayang, mungkin aku memang aneh, tapi yang jelas aku jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada hangat tatapan matamu.

Kemudian.

"AKU MENCINTAIMU !" Dengan keras kuteriakkan kalimat itu di antara gerimis. Diantara tatapan matamu yang membuatku semakin jatuh cinta. Dan kau tetap tak mengerti.

Rabu, 09 November 2011

Time To Leave

Tak bisakah kita kembali ke masa itu?
Ketika kita hanyalah dua orang asing.
Yang tak saling mengenal satu sama lain. 
Dan berhenti di situ.

***
Jika mencintaimu itu adalah luka, mungkin aku akan memilih tak bertemu denganmu. Tapi jatuh cinta bukanlah pilihan. Aku tak bisa memilih kepada siapa hatiku jatuh. Aku hanya bisa mengikuti dan menurut pada hatiku. Pun saat ia jatuh padamu. Aku tetap tak punya pilihan, selain kemudian mencintaimu. Sungguh bukan cinta yang main-main. Karena aku jatuh begitu dalam. Begitu mencintaimu. Bahkan sampai saat ini. Detik ini. Cinta yang tak pernah kusesali, meski setiap mengingatnya ada perih di sekujur hati.

Kisah kita telah lama berakhir. Tapi tidak cintaku. Semacam hukuman karena terlalu dalam mencintaimu-kah? Hingga cinta yang tak mau hilang setelah kepergianmu tetap harus kutanggung sendiri. Mencintaimu dan memerih. Perih yang tercipta karena aku masih begitu menginginkanmu. Mungkin memang salahku. Terus menoleh ke belakang dan tak mau beranjak pergi. Keadaan yang justru membuatku semakin terluka dan harus terus menikmati perih.

Dan kini.

Mungkin sebuah kesadaran yang sangat terlambat datang. Saatnya untuk pergi. Saatnya untuk tak lagi menoleh ke belakang. Tak lagi terpaku pada masa yang telah aku tinggalkan. Belajar melepaskan. Belajar ikhlas meninggalkan. Aku percaya hanya itulah satu-satunya cara agar langkahku semakin ringan. Ringan untuk melangkah dan menjemput sesuatu yang baru. Sesuatu yang kuyakini lebih indah. Sesuatu yang tanpa perih. Sesuatu yang akan membuatku bersyukur, bahwa pada akhirnya aku mampu berdiri tegar tanpa beban masa lalu kita.

Sungguh semua itu tak akan semudah membalikkan telapak tangan. Aku bahkan tersendat di langkah pertamaku. Menahan diri untuk tak lagi menoleh ke belakang. Sepenuhnya aku sadari, saat langkahku kembali terhenti, sang waktu tak akan diam menemani. Dia terus berlari. Yang tersisa hanya pilihan : Kembali tak berdaya di dekap masa lalu atau terus melangkah mengejar mimpi dan harapan di masa depan.

Kuputuskan untuk terus melangkah mengejar mimpi dan harapan. Semoga bayanganmu tak lagi membuatku berhenti dan terdiam.

Selamat tinggal.

Selasa, 08 November 2011

Padamu : (8) Hujan Malam Ini

Aku suka mendengarkan suara hujan yang jatuh di atas genting. "Tik tik tik...". Begitu teratur. Keteraturan yang menenangkan. Berbaring, mendengarkannya diam-diam, menekuk lutut hingga kedadaku, memeluknya erat-erat dengan kedua tangan, dan kamu di ingatan. Itu yang sering terjadi. Suara hujan di atas genting selalu mengantarkanmu ke dalam ingatanku.

Hujan dan mengingatmu. Romantis bukan? Mendengarkan suara hujan dan juga mengingatmu. Mengingat kamu yang pernah memberi rasa. Mengingatmu yang juga mengambil rasa itu, dan pergi tanpa memberi kepastian. Tapi aku tak pernah melupakannya. Tepatnya aku belum lupa. Aku bahkan menantimu. Masih menantimu. Bunyinya selalu mampu membiusku. Mengingatkanku pada sosok yang sama. Sosok yang pernah ada, sekaligus tak lagi ada. Kamu. 

Yah, padamu. Apakah kamu merasakannya? Merasakan ada yang tengah memikirkanmu, saat kau dengar suara hujan di atas genting. Tik tik tik... Dengarkan. Resapi. Rasakan. Kamu tak akan pernah salah menduga. Diantara gemericik bunyinya aku mengingatmu. Aku merindumu. Sangat. Begitu detail aku mengingatmu. Punggungmu, senyummu, suaramu, baumu, hangatmu. Aku ingat. Begitu detail aku merindumu. Semua yang ada padamu aku rindu. Bahkan caramu memandangku dengan mata teduhmu. Aku rindu.

Malam ini hujan kembali jatuh. Tik tik tik... Aku kembali mendengarkan suaranya dalam diamku. Aku kembali mengingatmu. Derasnya serupa rinduku. Rindu berada dalam pelukanmu. Seperti dulu. Tapi malam ini bunyinya membawaku pada sebuah renungan : adakah rindu ini hanyalah kesia-siaan? atau, adakah bahagia yang indah di ujung rindu, seperti indahnya pelangi setelah hujan ?

Tak ada jawaban. Hanya terdengar bunyi hujan. Tik tik tik... 

Aku menyelipkan harapan di antara gemericik bunyinya. Semoga kamu segera datang, dan memberiku sebuah jawaban.

Bilakah?

Sabtu, 29 Oktober 2011

Sepasang Kesedihan

Seperti yang telah aku lakukan hingga hari ini, aku akan terus mencintaimu. Dari purnama ke purnama, hingga purnama berikutnya. Begitu berulang hingga nafas berhenti. Selebihnya biarkanlah Dia Sang Maha Cinta memeluk kesedihanmu.

Langitpun sepertinya ikut berduka. Diteteskannya lara serupa jarum-jarum yang menusuk sukma. Mungkinkah dia mengerti, bahwa tak setiap cinta berbunga bahagia.

Sejauh perjalanan kita, bukankah kitapun tak pernah mengerti mengapa cinta memberi kita akhir air mata, sedang kita begitu saling mencinta.

Jauh di teduh matamu, diantara kesedihan-kesedihan yang kian basah, aku tahu kau menginginkanku. Tapi kau lebih suka tenggelam dalam dukamu. Memilih membalut setiap luka tikaman cinta. Sendiri.

Kau tahu, setiap pilihan meski itu menyakitkan akan membawa obatnya sendiri. Mencintaimu berarti ikut merawat kesedihanmu, menciptakan bahagiamu, menghadirkan senyummu, meski tanpa aku di sisimu. Semua itu adalah obat kesedihanku. 

Jadikan aku sesuatu yang mampu kau pahami dengan denyut nafasmu, rindumu, sentuhmu dan hasrat luka-lukamu.

Cintailah aku di antara kesedihanmu. Semampumu. Semampu engkau menciumi luka yang memerih dari kesedihanmu.

Rindu telah kusulam pada lembaran waktu, agar cinta dapat berselimut tenang di lubuk hatimu. 

Meski pada akhirnya hanya kenanganlah satu-satunya tempat aku dapat memilikimu. Utuh. Tanpa kesedihan. 

Itu jalan yang ingin kau tempuh. Dan aku hanya bisa mengikutimu. Dengan gerimis di sepanjang perjalanan. Kesedihan kita.

Tak perlu menyesali. Sebuah jalan telah ditentukan, takdir kita. Jalan yang sejatinya sama-sama tak ingin kita pilih. Biarkan kesedihan-kesedihan tumbuh subur di sepanjang jalan itu, tapi kau dan aku mengerti, cinta kitapun kekal bersamanya. Itu lebih dari cukup.



Senin, 24 Oktober 2011

Detik

Pernahkah kau berpikir, berapa lama aku mencintaimu. Dua puluh empat jam. Setiap detik aku mencintaimu. Detik demi detik menikmati setiap rasa yang ditawarkannya. Dari pagi ke pagi. Dari hujan ke pelangi. Dan aku belum lelah.

Setiap detik cinta itu bertunas. Menumbuhkan cinta yang baru. Lebih dalam dari cinta yang sebelumnya. Begitu terus. Sepanjang hari. Dari musim ke musim. Dari tahun ke tahun. Terus tumbuh. Akarnya semakin dalam menancap di hati. Bunganya bermekaran memberi wangi hari. Dan aku belum juga berhenti.

Hingga detik ini, aku belum lelah, aku belum berhenti. Jadi, mengertikah kau betapa aku mencintaimu...

 ***
Entah bagaimana mengungkapkan cinta yang kurasa, 
atau mungkin cintaku terlalu sederhana,
hingga kata tak lagi mampu menyampaikannya,
tapi detik akan membuktikannya...
***

Minggu, 23 Oktober 2011

Padamu : (7) Titik

Tuan, Bahkan sebuah cerita yang tersusun indah itu berawal dari sebuah titik. Titik-titik menyatu membentuk huruf. Kemudian mereka bergandengan membentuk kata. Setiap kata terangkai menjadi kalimat. Dan terciptalah sebuah cerita.

Tuan, Bahkan sebuah gambar yang terlukis indah berawal dari sebuah titik. Setiap titik saling melebur membentuk garis, juga lengkungan. Kemudian mereka saling melengkapi. Bertaut dalam coretan-coretan yang lebih bermakna. Dan mewujudlah sebuah gambar.

Dan kita, Tuan. Adalah dua titik yang hanya diam di tempat. Kau tetap diam disana. Dan aku diam menunggu di sini. Kita berjarak. Tak bisakah kita saling mendekat ? Tak bisakah kita menyatu dan mulai menuliskan cerita kita? Cerita cinta. Lengkap dengan kalimat-kalimat bahagia, bahkan kalimat tentang air mata. Tak bisakah kita melebur dan mulai melukis gambar kehidupan kita berdua ? Gambar kita yang saling berpelukan. Juga saling nenggenggam memberi kekuatan. Gambar kehidupan yang akan membuktikan cinta kita ada.

Tuan, tak bisakah?

Rabu, 19 Oktober 2011

Padamu : (6) Jatuh

terkisah...
pada setiap titik kehidupan yang harus dilewatinya
perempuan itu telah sampai pada bagian bahwa ia telah jatuh cinta 
hanya
sosok itu tak pernah tergapai
sebatas punggung yang bisa ia pandangi dari kejauhan
serupa bintang jatuh
sekelabat menyapa bola matanya sebelum ia mampu menyentuhnya
tak banyak yang bisa di lakukan
selain terus mengirim isyarat
sehalus angin
selembut gerimis
kemudian berharap tak jatuh semakin dalam 
tapi
sepertinya sia-sia...


Sabtu, 15 Oktober 2011

Padamu : (5) Derai Pagi

di antara kilau embun itu
kau memantul perlahan
kenangan ternyata tak mampu bersembunyi
dari hangat matahari di sela dedaunan

setelah langkahmu menjauh
kesedihan diam-diam melebur dalam banyak hal
pada dingin pagi tanpa hangat bisikan
juga di balik kedua mata

betapa sunyinya
bahkan detak jantungkupun tak terdengar
angin terus meniupkan sepi perlahan
dari bagian bumi yang entah ke pucuk-pucuk ilalang

sejurus cahaya matahari menjatuhkan bayang-bayang
juga kesendirian milik diri
satu jatuh tepat di tengah jantung
kemudian bening tergelincir di kedua pipi
---

dear, need you...

Padamu : (4) Saat Senja

Saat senja, kita berbagi cerita di antara lembut jingganya. Menyulam setiap bahagia dalam tatapan mesra. Melepas duka melebur bersama angin yang berlalu tergesa.

Saat senja, kita nikmati setiap lekuk indahnya dalam dekapan manja. Membiarkan rumput-rumput hijau menggelitik telanjang kaki kita. Menitipkan sejuta angan pada langit diantara arakan mega.

Saat senja, kita rebah untuk mengurai setiap penat jiwa. Malam yang menjelang tak lagi memberi risau pada gelapnya. Karena utuh cinta telah erat menggenggam sukma.

Nanti. Saat senja bersamamu yang kuharap segera tiba...
---

Masih disini. Menunggumu dalam bias kilau senja.

Rabu, 12 Oktober 2011

Another "Pelukan"

Jauh dari kamu, ada yang berubah dariku. Tak bisa tidur. Aku telah terbiasa dengan kehadiranmu. Sesuatu hilang saat kau tak ada di sisi. Pelukanmu. Seperti bayi yang menginginkan kedamaian dalam pelukan ibunya saat terlelap, begitupun aku. Malam selalu terasa panjang saat kau tak bersamaku. Aku begitu kehilangan pelukanmu.

Lalu disana. Ada kemeja biru yang kau pakai kemarin saat pulang. Aku sengaja tak mencucinya. Tetap tergantung di belakang pintu kamar kita. Ada alasan khusus mengapa aku tak segera mencucinya. Bukan karena malas atau sejenisnya. Itu karena aku tak ingin baumu yang melekat di sepanjang kainnya tak hilang atau berubah menjadi wangi sabun cuci. Alasan yang bodoh bukan ?

Terserah apa yang kau pikirkan. Tapi aku begitu suka baumu. Aku menciptakan ritual sebelum tidur : menciumi kemejamu. Bau tubuhmu yang melekat seolah kembali menyeret ingatanku padamu. Tentang semuanya yang ada di dirimu. Memang tak bisa menghapus seluruh kerinduanku. Tapi itu cukup. Terkadang aku bahkan memakainya. Baumu begitu dekat, seolah kau juga tidur di sampingku. Memelukku. Yah, bau tubuhmu yang masih menempel di kemejamu menjadi semacam pelukan. Pelukan yang menenangkan, disaat jarak dan waktu memaksaku menepi di kesunyian dan kerinduan.

Kamu tak keberatan bukan?

Seperti di dialog film Jerry Maguire "You complete me". Begitulah kamu. Melengkapi hidupku. Jauh darimu ada yang hilang. Membekukan baumu di ingatanku memang tak mampu menggantikan kehadiranmu yang sejatinya. Tapi untuk sekarang ini, tak banyak yang bisa aku lakukan. Baumu yang kau tinggalkan lebih dari cukup untuk memelukku.

Kenyataan bahwa aku mencintaimu.

Mungkin kali ini bau tubuhmu yang kurasakan tengah memelukku. Tapi akan ada hari, saat kamu kembali, aku benar-benar memeluk tubuh hangatmu. Berlama-lama dalam dekapanmu. Saat itu tiba, aku tak akan melepaskanmu.

Aku kangen.

Minggu, 09 Oktober 2011

Jarak

kemudian...
jarak itu dibentangkan antara kita
agar makna mampu tercipta pada setiap ruang diantaranya
benih kasih sayangpun ditiupkan dalam desir sunyinya
agar kita mampu menjaganya hingga berputik dan berbunga

tapi satu pintaku :
jangan terlalu lama kau susuri jarak yang ada
jalanku terlalu sepi tanpa ada kau di sana

Jumat, 30 September 2011

Semakin Jatuh

Dear Kamu...

Jika setiap jalan takdir manusia telah ditulis-Nya bahkan sebelum kita dilahirkan di muka bumi ini, aku percaya Dia-pun menuliskan bab tentang takdir jatuh cinta untuk setiap manusia. Termasuk untukku, juga kamu. Semua sudah diatur-Nya. Pada siapa kita jatuh cinta, lengkap dengan jam, hari, tanggal, tahun kejadiannya. Juga detail kisah-kisah romansa yang mengiringinya. Dengan demikian aku sangat percaya bahwa : Setiap manusia pasti jatuh cinta. Kamu tak percaya ? Aku bukannya sekedar berkesimpulan tanpa bukti. Hampir setiap hari yang aku lalui aku melihat orang-orang yang jatuh cinta. Di sekitar rumah, di angkot yang kunaiki tadi, di jalanan, aku melihat dimana-mana ada orang yang sedang dicintai dan mencintai. Mereka saling jatuh cinta. Dan juga aku. Berbahagialah aku yang sedang jatuh cinta padamu. Kamu tahu rasanya bukan. Seperti ada banyak kupu-kupu berterbangan di perutku setiap di dekatmu.

Kemudian aku belajar : Jatuh cinta itu sepaket dengan air mata. Mungkin kedengarannya aneh, tapi begitulah adanya. Kamu pernah membaca puisi-puisi cinta ? Disana dapat kau raba betapa kata-kata yang mereka tuangkan dalam bait puisi sarat dengan air mata. Entah air mata kerinduan, air mata penantian, air mata cinta yang tak sampai, bahkan air mata pengkhianatan. Akupun membuktikan. Jatuh cinta padamu sering membuatku melewatkan malam-malam dengan air mata kerinduan. Begitu hebatnya aku merindukanmu, hatiku terasa sesak. Sesak yang membuncah dan membuat kedua mataku tak sanggup lagi menahannya, dan akhirnya jatuh menetes diam-diam di sepanjang kesunyian malam. Tapi tak mengapa. Itu konsekuensi jatuh cinta. Air mata justru membuktikan betapa cintaku padamu begitu dalam. Air mata juga akan menguatkanku, mengajariku agar semakin mengerti tentang cinta.

Dan ini yang terakhir, aku belajar bahwa : Jangan pernah memendam rasa cinta. Menyimpan cinta sendiri itu berat, dear. Rasanya seperti menyimpan gunung berapi dalam hati. Bergolak, berusaha mencari jalan untuk keluar, dan akhirnya tak tertahankan, keluar mengalir menjadi kata-kata cinta yang sering kusampaikan padamu. Kamu tahu ? Sebenarnya tak mudah menyampaikannya. Butuh keberanian penuh untuk mengatakannya padamu. Tapi kupikir bukan diriku saja, siapapun dia, sekuat apapun dia, pasti akan terlihat tak berdaya di hadapan orang yang dicintainya. Jadi jika saat ini kukutakan aku mencintaimu, kuharap kau mengerti itu, menghargainya sebagai ketulusanku yang benar-benar telah jatuh padamu.

Yah... Aku telah semakin jatuh padamu, dan sepertinya aku tak ingin bangun kembali...

Kamis, 29 September 2011

Yang Telah Berlalu

dan...
wangi kopi yang terbawa asapnya yang membumbung 
tiba-tiba menyatukan mozaik-mozaik masa lalu yang berhamburan di langit senja
masa yang pernah kita lewati bersama
masa yang pernah mengajarkan kita mengeja arti bahagia
sebelum ia menguap kemudian menjadi dingin
meninggalkan ampas pahit yang menghitam di dasar hati

Selasa, 27 September 2011

Hening

di antara kau dan aku
bisu meski hati sesak dipenuhi kata yang ingin terucap
hening adalah satu-satunya bahasa diantara kita
tapi ia seakan memiliki jantung
yang menghela nafas cinta
denyutnya terasa satu demi satu
membawa apa yang tak mampu terkatakan
sejenak melayang berayun di udara
kemudian seperti gelombang ia terus mengalir
berakhir dan berlabuh di hati kita

Minggu, 25 September 2011

Jika Kau Bertanya...

jika kau bertanya apa itu cinta
lihatlah dengan hatimu kedua mataku
cahaya cinta meninggalkan jejak berkilau disana

jika kau bertanya mengapa bisa begitu
tulus dari dalam jiwaku akan kujawab
semua itu karena kamu

jika kau masih bertanya mengapa harus kamu
jujur aku tak tahu pasti harus menjawab apa
karena kata-kata tak pernah cukup untuk menyampaikan isyarat hatiku

ps :
entah untuk yang keberapa kalinya, hanya ingin bilang : aku mencintaimu...

Jumat, 23 September 2011

Mengecup Luka

Jejak-jejak sunyi tertinggal bersama waktu yang terus meluruh. Setiap jejak telah memenuhi takdir yang digariskan-Nya. Terkadang ada tangan yang menuntun, juga hati yang mau mendengar. Tapi tak ada yang benar-benar mengerti, sedalam apa luka yang tergores saat takdir menggariskan jejak berlumur duka. 

Begitupun aku. Tertatih menapakinya. Terkadang senyum yang menghiasi bukanlah yang sebenarnya. Senyum hanya menjadi wakil dari kata-kata yang enggan mengumbar luka. Bagaimanapun luka bukanlah benih yang patut disebar kemana-mana. Tumbuh di sembarang tempat yang mungkin saja justru mengganggu dan menimbulkan masalah bagi orang lain. Menanamnya di dalam ladang hati sendiri dan menikmati sendiri bunga laranya adalah pilihanku. Tapi terkadang hati tak mampu menampungnya lagi, saat luka begitu subur tumbuh di dalam hati. Akarnya menjalar tak terkendali, mendesak, menghimpit kekuatan yang tersisa dalam sesak. Menghadirkan ketidakberdayaan yang sempurna.

Disinilah langkah sampai pada titik batas kemampuan menyimpannya. Tersadar dalam sunyi bahwa sebenarnya "aku tidak baik-baik saja". Air mata menjadi begitu rajin mengalir, memberi kabar pada bumi atas ketabahan yang mulai ingin beranjak pergi. Dalam kesunyian mengalir diam-diam. Sendiri. Tak seorangpun mengetahui. Tapi cerita-cerita lain yang juga diberikan-Nya segera menyekanya. Mengeringkannya. Begitu berulang : Menangis sendiri, mengering sendiri.

Menyadari sepenuhnya, bahwa sebenarnya apa yang kita rasa hanyalah sejauh apa yang kita pikirkan. Begitulah hidup. Aku hanya harus mencoba mengerti. Melihat dari sisi lain. Dan bukan hanya terpaku pada luka. Segala perih silahkan datang. Tak peduli aku akan tetap melangkah menerjang. Akan kukecupi semua luka. Menjaganya hingga perih tak lagi terasa. Akan kubagi ruang dalam jiwaku untuknya, menapaki tiap serpihan hidup bersamanya. Tak akan kupaksakan dia berlalu. Karena aku tahu akan tiba masanya dia sendiri yang akan beranjak pergi. Aku hanya harus terus mengecupinya, membalutnya hingga luka itu mengering. Tak ada yang tahu kapan saat itu tiba, begitupun aku. Tapi aku akan bersabar. Terus menemani lukaku, terus mengecupi lukaku. Tak perduli ada yang menyempatkan hati untuk mengerti atau berpaling pergi. Takdir adalah kesunyian masing-masing, dan aku tak keberatan dengan semua ini.

Akan tetap kujalani hidupku. Menggapai segala impianku. Meski di ruang hati yang lain luka masih ada mengiringi. Menyadari dan mengerti apa yang diinginkan-Nya dalam hidup, dan berusaha mewujudkannya dengan setiap tetes keringat dan darah yang mungkin kupersembahkan, itu sudah cukup.

Senin, 05 September 2011

Padamu : (3) Rindu

Menembus dingin malam, berjalan perlahan menuju beranda hatimu. Aku tinggalkan sebentuk rindu di situ. Tepat di depan pintumu.

Aku tak tahu pasti apa yang akan terjadi pada rindu itu. Mungkin angin malam akan meniupnya pergi jauh, hingga sampai ke negeri bernama entah. Dan mungkin juga suatu saat rindu itu akan kembali lagi sebagai harap. Harap yang memiliki sayap-sayap kuat yang pada akhirnya sanggup membawamu terbang, kembali dalam hangat rengkuhku. Seperti dulu.

Aku tinggalkan sebentuk rindu di situ. Berbisik sebaris doa, saat pada akhirnya kau membuka pintu, ia belum membeku.

Jumat, 19 Agustus 2011

Padamu : (2) Hati

Jatuh cinta itu berarti berani menitipkan hati. Menitipkan hati pada dia tempat hatimu jatuh. Paling tidak ada dua kemungkinan saat kamu melakukannya. Jika beruntung, dia akan menjaga hatimu sepenuhnya, bahkan dengan mempertaruhkan segala yang dimilikinya. Merawat dan memperlakukan hatimu sebaik-baiknya. Bukti bahwa kamu menitipkan hati pada seseorang yang tepat. Seseorang yang benar-benar mencintaimu. Sanggup melakukan apapun untukmu.

Tapi terkadang kamu tak seberuntung itu. Kamu menitipkan hati pada seseorang yang salah. Seseorang yang tak mampu menjaga hatimu. Seseorang yang justru menyakiti hatimu dan bukan menjaganya seperti yang kamu inginkan. Tapi begitulah hidup. Selalu penuh resiko. Saat kamu berani jatuh cinta, resiko seperti ini mungkin saja terjadi. Itu mengapa jatuh cinta hanya untuk mereka yang berani menangung resiko. Resiko bahwa mungkin telah menitipkan hati pada tempat yang salah.

Dan aku padamu...

Kuharap, aku menitipkan hatiku pada tempat yang tepat. Aku percaya kamu akan menjaganya. Bijak memperlakukannya. Kalaupun nanti ada air mata, aku yakin kamu punya cara menyekanya, dan tak membiarkannya terus mengalir hingga meninggalkan luka.

Saat kamu pergi, aku selalu merasa kamu turut serta membawa pergi hatiku. Sadarkah kamu, saat aku berkata "hati-hati", sesungguhnya aku mengingatkanmu, bahwa aku ingin ketika kau pergi dan tak bersamaku, kau tetap menjaga hati yang telah kutitipkan padamu.

Heii... Hati-hati...

Senin, 15 Agustus 2011

Padamu : (1) Kenangan

terkadang...
kenangan begitu dingin
sedang kita memilih tak berpakaian
hingga 
tanpa disadari
pelan-pelan kita terbunuh
dalam kebekuan...


Kenangan itu hanya sebatas boleh dikunjungi. Bukan ditinggali. Sekali-kali kamu boleh berkunjung, kenangan selalu meninggalkan jejak berharga tempat kita belajar. Tapi tetap diam disitu, dan membiarkan dirimu terjebak di dalamnya adalah kebodohan. Bagaimanapun hidup terus berjalan. Dan terjebak dalam kenangan hanya akan membuatmu sulit melangkah ke depan. Segera berbenah diri, bersiap untuk keluar dari ruangan bernama kenangan, biarkan kata hatimu yang menuntun ke persinggahan hidupmu selanjutnya. Dan langkah kakimu akan setia mengikuti di belakangnya.



Jumat, 12 Agustus 2011

Perempuan Hujan

Padamu yang sedang duduk di atas awan. Wajahmu layu. Masih tampak sisa air mata yang mengering di pipimu. Bersembunyi dibalik hitamnya awan. Sorot matamu sendu menatap. Menusuk hatiku. Dan tiba-tiba ada luka ikut memerih di situ.

Kamu yang selembut angin. Tak nampak tetapi selalu terasa dingin saat menyentuh. Aku mencintaimu, perempuan hujan. Tak perlu kau hiraukan mereka. Mereka tak mengerti cinta. Selalu memandang hanya dari mata mereka. Tak mampu merasa apa yang kita rasa.

Bukankah cinta selalu mengerti.

Dan kini, lepaskan semua bebanmu. Mencintalah dengan jujur. Aku berikan hangatku padamu, dan kau berikan air matamu untukku. Pada akhirnya seperti mawar yang membutuhkan hangat mentari dan tetes hujan, cinta kita tumbuh mewangi bukan ?

Menikahlah denganku. Kita jemput bahagia. Menikah di bawah hujan. Diantara tetes airnya. Membiarkan beningnya membasahi seluruh tubuh kita. Mengalir. Membawa semua duka yang pernah ada. Hingga yang tertinggal hanyalah bahagia. Kau dan aku.

Setelahnya kita bangun rumah cinta kita. Jadilah hujan setiap hari. Dan aku akan menjadi mentari. Bersama kita ciptakan pelangi. Tempat kita bermesraan di setiap bilangan hari. 

Lupakan mereka. Hanya ada aku, kau, dan cinta kita.

Itu cukup...
---


Terkadang dalam hidup, untuk bahagia kau hanya perlu "jujur mencinta"
Tak membutuhkan selainnya...

Selasa, 09 Agustus 2011

Menginginkanmu

Tanpa aku sadari, aku begitu menginginkanmu. Bahkan sejak pertama kali aku melihatmu. Dan sekarang, secara sadar aku begitu menginginkanmu. Mungkin karena aku sulit bernafas tanpamu. Atau memang kau diciptakan untukku. Mungkinkah sesederhana itu.

Kenyataan menarikku pada sebuah pernyataan yang menghentak hati.

"Terkadang, tak setiap keinginan dapat terpenuhi. Melepaskan keinginan itu bukanlah berarti kelemahanmu untuk berhenti berjuang. Itu menunjukkan kau mampu berjiwa besar menerima kenyataan bahwa keinginanmu tak mungkin terpenuhi"

Menyerah. Itu adalah yang terbaik. Menerima kenyataan dan hanya menginginkanmu dalam diam. Menginginkanmu dalam setiap langkah diamku . Menginginkanmu dalam setiap air mata yang menetes. Menginginkanmu dalam setiap sepi. Menginginkanmu dalam setiap letih hatiku.

Menginginkanmu...

Tak perduli kau mendengarkan keinginanku. Atau kau hanya berpura-pura tak terjadi apa-apa. Menafikkan kehadiranku. Aku tetap terus menginginkanmu. Cukup, hanya menginginkanmu.

Menginginkanmu sampai kau mau menyambut tanganku yang terulur bisu.

Akankah ?

Sabtu, 06 Agustus 2011

Duka

Selamat malam hati yang berselimut duka...
Kulihat tubuhmu begitu beku seakan jutaan dingin tengah menggigitmu.
Tidak mengapa. Adakah kau mengingatnya, sekali waktu pernah aku berujar padamu bahwa duka adalah bahagia yang bersembunyi di balik tabir ?
Menunggu untuk menemuimu, saat nafasmu menghembuskan keikhlasan.
Dia memang tak akan memberimu wangi bunga dan kembang api aneka warna.
Yang diberikannya mungkin hanya derai air mata yang deras mengalir di kedua pipimu dan luka yang memerih.
Tapi tidakkah kau terlalu lama dininabobokkan bahagia yang semu ?
Tidakkah duka yang tengah menghampiri memberi ruang padamu untuk memahami arti bahagia yang sejatinya.
Biarkan dirimu sempurna dilumat duka.
Karena hanya dengan mengecap duka maka saat bahagia hadir kau lebih mampu merasakannya, mensyukurinya.
Mengertilah, dalam hidup kau tak akan mampu bijak memaknai rasa tanpa kau terlebih dahulu menikmati semua rasa yang diberikan-Nya.
Juga duka...
***

... suatu malam, embun di sudut mata, dan sebersit duka yang dititipkan pada tetesnya...

Jumat, 05 Agustus 2011

Jika Malam

Jika malam itu telinga, terima kasih tak bosan mendengarkan curahan rasaku.
Jika malam itu bangku tua, aku sedang duduk menangis di tepinya.
Jika malam itu hujan, biarkan menetes di pipiku, mengecup dukaku.
Jika malam itu embun, ada cinta di dalam beningnya.
Jika malam itu desah nafas, setiap helaan nafasku membisikkan cinta.
Jika malam itu punggung, aku ingin merebahkan segala penatku di situ.
Jika malam itu gaun, aku ingin menyulamnya dengan warna pelangi.
Jika malam itu kata, di setiap dinding sunyinya tertulis namamu.
Jika malam itu rindu, ada sudut kosong di hatiku, menginginkan hadirmu.
Jika malam itu cinta, biarkan mengalir lembut, bermuara di jiwa.
Jika malam itu aku, adakah kau simpan rindu di hatimu ?
Jika malam itu aku, akankah kau datang menemuiku ?

Jika malam mereda, aku belum reda mencinta.
Mengertikah kamu...

Senin, 01 Agustus 2011

Sang Air

Dan, aku kembali di sini. Duduk. Kamu di benakku. Menulis tentangmu, masih.

Ada semilir angin di luar sana. Bertiup lembut kemanapun yang di inginkannya. Menyentuh dedaunan, rumput, juga mawar merah itu. Menyentuh apapun yang dimaunya. Sama seperti cinta, terkadang kau harus membiarkan cinta pergi kemanapun yang diinginkannya. Menyentuh hati siapapun yang disukanya. Itu lebih menenangkan, daripada kau berusaha menahannya dan membohongi hatimu sendiri.

Kemudian, tiba-tiba aku sudah larut ke dalam matamu. Tatapanmu yang teduh begitu membius. Seolah berkata, "Aku disini untukmu, menjagamu". Mengalirkan ketenangan hingga jauh ke dalamku. Yah, ketenangan. Seperti air. Kamu begitu menenangkan. Aku betah di dekatmu. Kau tahu itu ?

Lalu, aku memanggilmu Sang Air. Kehadiranmu memang menenangkanku. Tapi terkadang kau begitu deras mengalir. Membawa gelombang dan kemudian menyeret dan menghanyutkanku tanpa daya. Aku mencoba mencari pegangan agar tak semakin jauh terhanyut. Dan semua sia-sia saat aku sadari aku justru semakin tenggelam.

Aku begitu menyukai hujan, lalu aku begitu tergila-gila padamu. Aku jatuh cinta padamu seperti aku jatuh dan mencintai hujan. Hujan dan air. Mungkin itu takdir yang mempertemukan kita. Bahkan, pernah, kau menginginkanku menjadi hujan yang turun merintik perlahan. Hingga tak merusak lapisan tanah di atasnya. Turun kemudian meresap ke dalam tanah dan memberi kehidupan. Itu yang kamu katakan. Aku mengingatnya seperti itu : Kau hanya menginginkanku menjadi hujan yang turun merintik perlahan. Hanya sebatas itu.

Angin mengusap pipiku. Menyadarkan lamunan. Aku merasa seperti perempuan bodoh. Aku tidak bisa memilikimu. Kau memilikinya, mencintainya. Aku yakin seperti itu. Tapi tak mengapa. Aku hanya ingin mencinta. Dan kau tetaplah berada di sana. Di tempatmu yang semestinya. Tetap mengalir memberi ketenangan. Juga kuharap kebaikan. Seperti air yang terus mengalir memberi kebaikan pada setiap yang dilaluinya. Tanpa harus merasakan, memiliki yang sesungguhnya.

Aku memanggilmu Sang Air.
Kau datang mengalir membawa ketenangan.
Begitu saja...
---

Note : Dedicated to my best friend.
"Cinta tak harus memiliki". Sepertinya klise, tapi aku setuju. Saat akan ada banyak hati yang terluka, mencintai bukan berarti harus memiliki...

Sabtu, 30 Juli 2011

Hanien

Mestinya malam ini bisa sangat istimewa
Seperti dalam mimpi-mimpiku selama ini

Kekasih, jemputlah aku
Kekasih, sambutlah aku
Aku akan menceritakan kerinduanku dengan kata-kata biasa
Dan kau cukup tersenyum memahami deritaku
Lalu kuletakkan kepalaku yang penat di haribaanmu yang hangat
Kekasih, tetaplah di sisiku
Kekasih, tataplah mataku
Tapi seperti biasa sekian banyak yang ingin kukatakan tak terkatakan
Sekian banyak yang ingin kuadukan diambil alih oleh airmataku
Kekasih, dengarlah dadaku
Kekasih, bacalah airmataku

Malam ini belum juga seperti mimpi-mimpiku selama ini
Malam ini lagi lagi kau biarkan sepi mewakilimu...
---

ditulis dengan begitu indah oleh KH Mustofa Bisri

Note :
Sepi itu terkadang seperti air. Awalnya hanya beriak. Kemudian mengombak. Lalu berubah menjadi gelombang pasang. Dan tanpa kau sadari telah menyeretmu dengan kencang. Saat itu terjadi, yang aku inginkan hanya bertahan. Karena betapapun tinggi gelombang menerjang, pada akhirnya akan kembali tenang. Semoga...

Kamis, 28 Juli 2011

Ketulusan

Ketulusan tak akan pernah mampu kau temukan dalam kata
Ia lebih dapat teraba dari gerak yang tercermin dalam perbuatan
Sekumpulan perhatian yang terurai dalam tingkah lakunya
Juga tanpa alasan yang biasa terwakili 'karena'

Saat perhatian diberikan, dia hanya berbuat tanpa banyak kata
Saat pujian disampaikan, binar matanya adalah tanda
Saat memberi, potongan cinta akan kau temukan terselip di sana
Dan hatimu tak akan pernah tersesat dalam lupa

Ketulusan bukan kata dan hanya kau dapati dalam rasa
Seperti cahaya matahari pagi yang menghangatkanmu
Tanpa kata tapi kau merasakan hangatnya
Begitulah ketulusan, meski tanpa kata, tapi nyata di rasa adanya

Saat Hujan Turun Di Hatiku

Rabb...
Aku sungguh tahu, jalan takdir  yang Kau beri tak selalu berhias pelangi dan wangi bunga. Tapi jika boleh aku meminta, mohon beri aku hati sekuat karang. Agar aku mampu terus tegak berjalan saat hujan badai datang di jalan takdirku...
---

Kadang, hidup berjalan tak seperti yang aku harapkan. Aduh... Meski aku tahu pasti hal itu adalah yang terbaik yang diberlakukan-Nya untukku, tapi tetap saja 'menangis' adalah hal pertama yang sering terjadi padaku. Tiba-tiba saja mata menjadi memberat, seperti uap air yang telah terkondensasi menjadi awan, tak sanggup lagi menahan bebannya dan ingin jatuh sebagai hujan. Hhmm... Kalau sudah begini aku benar-benar ingin hujan turun dari langit. Jatuh tepat di atas kepalaku, terus turun membasahi wajah. Aku berharap titik-titik airnya akan menolongku menyembunyikan air mataku. Karena dalam hujan : Tak seorangpun akan tahu betapa basahnya hatiku...
Terutama anak-anak, aku tak ingin mereka berpikir "betapa cengengnya ibu"

---
Cinta...
Saat hujan turun di hatiku, yang paling ingin aku dengar adalah suara teduhmu. Menenangkan resahku...

Senin, 25 Juli 2011

Seperti Senja


Cinta itu terkadang seperti senja. Datang sekejap dengan segala keindahannya, kemudian berlalu pergi. Kepergiannya yang begitu cepat meninggalkan kehilangan pada hati yang telah terpaut. Tapi apalah artinya senja yang berlalu, jika dalam hatimu kamu meyakini, esok sang hari akan menghantarkan senja yang lain datang kembali. Apalah artinya sebuah kehilangan, jika kamu memiliki harapan akan menemukan seseorang yang lain di waktu nanti.

Mungkin kehilangan seseorang hanya seperti senja yang menghilang dijemput sang malam. Hanya soal waktu, senja yang lain akan datang menghampirimu. Kembali memberikan keindahan seperti yang pernah kamu rasakan. Atau bahkan mungkin jauh lebih indah.

Yah, hanya begitu. Kehilangan hanya seperti senja yang berlalu.

Minggu, 24 Juli 2011

Semut

Semut itu binatang paling romantis, meski mereka tak pernah mengungkapkannya dalam kata. Di setiap pertemuan, mereka tak pernah melewatkan sentuhan, juga kecupan. Sentuhan dan kecupan sepertinya sudah menjadi bahasa mereka. Bahasa tubuh mereka. Mungkin itu cara mereka mengatakan "I love you". Dengan menyentuh. Dengan mengecup. Dan mereka tak pernah bosan melakukannya. Mereka tak memerlukan kata-kata. Cukup sentuhan. Cukup kecupan.

Dan kamu, persis seperti semut-semut itu. Tak pernah kamu lewatkan setiap pertemuan tanpa sentuhan dan kecupan. Aku bisa merasakannya, itu caramu mengekspresikan cinta. Cinta yang mengalir dari lubuk hatimu. Cinta yang kau wakilkan pada sentuhan dan kecupan. Meski tanpa kata-kata cinta. Hanya sesekali kamu menjawab saat aku bilang I love you : "Me too". Hanya itu. Tapi itu sudah mewakili isi hatimu. Kamu juga mencintaiku.

Kamu yang pendiam. Dan aku yang ekspresif. Begitu genit membagi kata sayang. Hampir semua yang aku rasakan aku ungkapkan dalam kata-kata. Aku sampaikan. Dua sifat yang bertolak belakang sebenarnya. Tapi beginilah kita : saling jatuh cinta. Mungkin kita berbeda. Tapi kita melengkapi. Kamu persis semut yang mengekspresikan cinta bukan dengan kata, dan aku akan menterjemahkannya dengan berjuta kata cinta yang aku mampu. Membisikkannya. Langsung menuju hatimu. Kamu tak bosan kan?

Beginilah kita. Saling melengkapi. Sentuhanmu, kecupanmu, dan berjuta kata cintaku. I love you, really.

Jumat, 22 Juli 2011

(Masih) Kangen

Tak butuh penjelasan banyak saat kamu merasa "kangen". Simple saja. Saat kepala dan pikiranmu dipenuhi seseorang, itu kangen. Kamu bahkan mampu membayangkannya hingga begitu detail. Matanya. Senyumnya. Suaranya. Sentuhannya. Bahkan bau tubuhnya. Begitu detailnya kamu mampu membayangkannya, lalu kangen itu seperti merubahmu menjadi seorang pelukis. Melukis segala yang ada padanya di ingatanmu. Begitu detail. Bahkan lukisan itu seperti hidup. Kemudian mengajakmu menyusuri labirin-labirin masa lalu yang pernah kalian alami. Seperti yang aku alami pagi ini.
---
♥ Kangen itu kata yang kubisikkan pada sang angin pagi ini, berharap akan disampaikannya padamu di sana.
♥ Kangen itu mungkin kebalikan dari obat tidur, bikin aku sulit memejamkan mata semalam...:(
♥ Kangen itu membuatku ingin bersandar di punggungmu, agar dapat kurasakan kembali hangat yang menenangkan menjalari sekujur tubuhku. Berdiam lama-lama. Dan tak hendak pergi.
♥ Kangen itu sesuatu yang membuatku bertambah cengeng, menangis semalaman dan terbangun dengan mata sembab.
♥ Kangen itu membuatku semakin sering menyebut namamu dalam bait-bait doaku, memohon kepada-Nya agar kebaikan selalu menyertaimu.
♥ Kangen itu seperti jalan setapak yang akan membimbingmu padaku.
♥ Kangen itu sesuatu yang akan membawamu ke masa lalu, mengumpulkan kenangan yang berserak, kemudian memaknainya dengan bijak.
♥ Kangen itu sesuatu yang sederhana tapi mampu membuatmu bersyukur dalam-dalam bahwa kamu memiliki seseorang.
♥ Kangen itu kesadaran, bahwa cinta masih bersemayam dalam relung hatiku. Untukmu.

Heiii... Aku kangen. Masih.

Kamis, 21 Juli 2011

Konsekuensi

Dalam hidup, untuk setiap yang kita lakukan pasti memiliki konsekuensi. Memiliki resiko. Konsekuensi yang terjadi begitu berwarna. Dan yang jelas tak pasti. Itu yang terkadang membuat hidup menjadi tak mudah. Tapi di sisi lain kita justru bisa belajar bijak menentukan langkah. Menimbang setiap konsekuensi yang mungkin terjadi. Buat aku, paling tidak aku bisa mempersiapkan diri menerima konsekuensi. Meski kadang itupun tak semudah yang terpikirkan.

Konsekuensi itu seperti bayanganmu sendiri. Mengikuti kemanapun kamu melangkah. Konsekuensi tak pernah diam. Selalu hadir. Seperti saat aku lebih suka berhujan-hujanan daripada membawa payung. Aku tahu konsekuensi yang akan mengikutinya. Masuk angin. Tapi tetap aku lebih suka menikmati hujan, dan menerima seandainyapun bakal demam semalaman. Kadang kita manusia seperti itu. Bersedia menanggung konsekuensi demi sesuatu yang di sukai. Tapi bukankah begitu hidup, bukan soal besar kecil konsekuensi yang akan ditanggung, tapi sekuat apa kemauan kita menanggung konsekuensi itu.

Konsekuensi juga akan mengikuti kemanapun hatimu menuju. Pada siapapun hatimu jatuh. Juga bila hatimu jatuh sejatuh-jatuhnya pada seseorang. Konsekuensinya mungkin adalah patah dan sakit yang teramat. Logikanya begini, cinta yang banyak tentu berakibat sakit yang juga tak sedikit. Konsekuensi terlalu cinta adalah patah yang menyakitkan. Itu yang biasa terjadi.

Terlintas terpikir, bagaimana aku mencintaimu. Cinta yang kadang membuatku merasa "can't life without you". Konsekuensi jatuh sejatuh-jatuhnya mungkin adalah patah sepatah-patahnya. Siapkah aku ? Tapi itulah konsekuensinya. Dan harus siap. Hanya berharap, kalaupun harus patah semoga Dia Sang Maha Segala semakin erat memelukku. Memberi kekuatan dan ketabahan. Aamiin.

---
Jatuh cinta padamu seperti jatuh ke dalam jurang yang aku tak perduli seberapapun dalamnya, tak perduli apakah aku bisa keluar atau tidak, karena aku memang tak ingin keluar...

Rabu, 20 Juli 2011

Miss You

Jutaan rasa berterbangan di langit siang
yang berhias saputan mendung
Aku menangkap satu : rindu
dan ingin menikmatinya bersamamu
Maukah kamu ?


Note :
Siang, mendung, dan rindu...
Ditulis di sudut hati yang membiru

Selasa, 19 Juli 2011

Diam Perempuan

diamnya perempuan
adalah kumpulan kata-kata yang terpenjara dalam hati, terikat dalam kebungkaman, hanya menanti, untuk dimengerti

diamnya perempuan
adalah barisan ketidakberdayaan yang menghuni jiwa, membias dalam diam-diam doa, melahirkan kepasrahan, kemudian menanam harap pada esok

Senin, 18 Juli 2011

Cukup

Terkadang, berkata "cukup" pada diri sendiri perlu. "Sampai di sini" mungkin itu kalimat tepatnya. Saat kamu merasa tak ada lagi yang bisa kamu lakukan. Saat semua usaha telah kamu kerjakan. Dan tak ada progress yang berarti, hanya sesuatu yang sia-sia, saatnya berkata "cukup".

Itu seperti batas yang kamu ciptakan untuk dirimu sendiri. Bukan karena putus asa atau enggan lagi berusaha. Tapi lebih mencoba berpikir secara realistis. Seperti gelas yang ada batasnya untuk diisi, atau akan tumpah dan membasahi sekitarnya. Seperti tanda dilarang masuk, batas yang jika dilanggar justru akan menyusahkan diri sendiri. Seperti perut yang sudah kenyang, atau akan muntah jika dipaksakan terus makan. Yah, semacam itu. Ada batasnya.

Seperti aku padamu. Mungkin saat ini aku sedang berada pada sebuah batas. Berdiri tegak pada sebuah titik dengan tulisan "cukup". Batas memberitahuku bahwa tak ada gunanya terus melangkah, atau akan semakin jauh terluka. Batas juga mengingatkanku bahwa cinta itu pernah ada. Agar aku tak lupa bahwa aku pernah mencintaimu tanpa batas itu.

Tapi dunia berputar. Semua tak lagi sama.

Dari jauh aku masih melihatmu, tapi hanya melihat. Tak ada lagi sapa mesra. Tak ada lagi puisi cinta. Semua telah berakhir dengan satu kata "cukup". Mungkin kita masih saling melambaikan tangan, tapi tak ada lagi sentuhan, cukup senyuman. Mungkin kita masih melewati jalan yang sama, tapi tak ada lagi genggaman tangan, cukup bau tubuhmu yang tertinggal. Semua itu : cukup untukku.

Kata "cukup" kuharap adalah awal baru bagiku. Untuk bersikap realistis. Untuk berbesar hati pada kenyataan. Tapi kata "cukup" kuharap akan selalu mengingatkanmu, bahwa pernah ada sepotong hati yang mencintaimu penuh, dan tanpa kata "cukup".

---
Note :
Dedicated to my best friend.
(Mungkin) Saatnya berkata "cukup", sampai disini.
Semoga selalu dalam kebaikan, aamiin.