Minggu, 11 Maret 2012

Berakhir Di Kamu

Jika cinta adalah sebuah perjalanan, aku terus melangkah, terus mencari...

Mencari tangan yang sepenuh hati bersedia menerima cintaku yang menggebu.
Mencari bahu tempat bersandar dan mengurai letih hari-hariku yang memenat.
Mencari kepala tuk menyelipkan segala bayangan yang tak mampu menyirna.
Mencari jejantung tempat menitipkan separuh nafas hingga akhir umurku.
Mencari langkah kaki yang kan kuikuti dengan rindu di setiap jejaknya.
Mencari mata tempat kumenghamparkan senyum bahagia.
Mencari telinga yang kan selalu mendengar dengan hati dan cinta.

Saat perjalanan takdir menuntunku padamu, pencarianku berakhir.
Meluruh segala rasa.
Mewujud kamu...

my note :
Mengurai kenangan atas dia yang kusebut cinta
Ah, masa itu...

Sabtu, 18 Februari 2012

Seperti Kunang-Kunang Dan Bintang Yang Mencintai Malam

Aku dan engkau, seperti kunang-kunang dan bintang yang mencintai malam. Ribuan jarak dari hatimu, dengan sayapku yang rapuh, setiap helaan nafas aku berusaha mencari cintamu. Pada setiap dingin malam yang menghujam sunyiku. Pada setiap gelap malam yang menghalangi pandanganku dari adamu. Tapi engkau tetap tak terjangkau pelukku.

Jika telah  kutitipkan semua cintaku pada desir angin malam yang menyapa, berharap agar bermuara menuju hatimu, adakah ia benar-benar sampai padamu? Atau aku tetaplah kunang-kunang yang terus memujamu, dan engkau tetaplah bintang yang tak akan pernah terpeluk olehku?

Mungkin selamanya akan tetap begitu. 
Aku dan engkau, seperti kunang-kunang dan bintang yang mencintai malam.
Hanya begitu..

Minggu, 12 Februari 2012

Senja Belum Hujan

di tepian senja yang berarak mendung menggantung
hujan tak juga jatuh

mungkin, awan tak memiliki banyak alasan untuk bersedih
hingga harus meneteskan hujan

tapi...

saat senja terus beranjak menghampiri malam
resahku telah bertumpuk menghadirkan ngilu 
perlahan menyayat nadi

senja ini, hujan belum juga turun
sepenjuru bumi merindukan basah
tapi kedua mataku telah basah
air mata...

Rabu, 08 Februari 2012

Hujan Dan Teduh


Untukmu, aku telah menyimpan sebentuk cinta berbalut harapan di ruang hati. Hati-hati meletakkannya di sana berdesakan dengan keraguan. 

Begitu banyak sekat diantara kita. Dan setiap tanganku yang terulur ingin mendekapmu selalu kembali melunglai sia-sia. Mungkin memang tak pernah ada takdir yang akan menyatukan kita. Masing-masing berjalan tanpa ada ujung yang mempertemukan. Meski dalam diam aku tak lelah menatapmu dengan cinta yang terus meneteskan rindu.

Kita. Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Mereka ditakdirkan bertemu, tapi hanya mampu saling menatap, tanpa bisa menyentuh, tanpa bisa bersama. Masing-masing menikmati perjalanannya sendiri. Seperti cinta kita. Hanya bisa menikmatinya dalam dingin dan sepi, sendiri...

Senin, 30 Januari 2012

Kehilangan

 Penyesalan selalu datang di akhir,
mungkin agar kita selalu bijak bersikap di awalnya,
karena saat semuanya telah terlambat, tak ada lagi yang bisa dilakukan...
---
 
Aku rindu saat kau menemani malam-malamku dan kita berbincang tentang banyak hal. Kau begitu pandai membuatku tertawa. Menghiburku, mengusir mendung yang memberat di mataku sebelum ia jatuh menjadi gerimis di kedua pipiku. Meski malam terus meninggi, dengan sabar kau terus menemaniku, menungguiku hingga lelap membawaku menemui mimpi. Menyelimutiku, mengecup lembut pipiku sebelum pergi, sambil berbisik "mimpi indah, sayang".

Keesokan paginya kau kembali datang menemuiku, dengan setangkai mawar putih. Kau begitu mengerti aku. Bahkan kau tahu semua yang aku suka, mawar putih itu salah satunya. Mungkin hanya setangkai mawar, tapi harumnya mampu meberi wangi hari yang kulalui. Setiap mengulurkan tangkainya, tak pernah lupa kau berpesan "awas durinya, aku tak mau kau terluka karenanya".

Untuk semua malam-malam yang kau jauhkanku dari duka.
Untuk semua hari-hari yang kau taburi wangi bahagia.
Terimakasih.

Yah, terimakasih... Kata yang tak sempat kuucapkan padamu. Bahkan sering mengukir luka di hatimu. Itukah yang membuatmu pergi? Berjalan menjauh, meninggalkanku sendiri tergugu. Bahkan air mataku yang terus menderas tak mengehentikanmu. Tak memperdulikan teriakan ma'afku yang memohon pilu. 

Dan kini,  yang bisa kulakukan hanya memandangi punggungmu yang semakin menjauh, dengan hati patah, dengan hati berdarah.

Ah, betapa bodohnya aku...

Rabu, 11 Januari 2012

Beri Aku Cinta


beri aku cinta, tapi tanpa jatuh
jatuh itu sakit, sangat
bagaimana kalau kita melayang saja 
bergandengan tangan kita melayang
terbang menjemput rembulan
menari di bawah hujan
memetik pelangi
terus melayang
tanpa pernah jatuh
tanpa pernah sakit

Senin, 09 Januari 2012

Padamu : (12) Terlambat

Kau tahu kekasihku, jatuh cinta padamu membuatku mengerti dua hal. Cinta yang kurasakan menjauhkanku dari mendung duka, tapi juga mendekatkanku pada ketakberdayaan yang melukakan. Saat aku berpikir telah menemukan kebahagiaan, tetiba aku jatuh ke dalam jurang yang gelap. Gelap yang membuatku sesak. Lama kelamaan aku menjadi sulit bernafas, dan akhirnya lemas tak berdaya. Aku mencoba bangkit kembali dan berjalan. Berusaha mengukir senyum di bibir seolah aku baik-baik saja. Tapi kenyataannya aku tidak baik-baik saja. Aku terluka.

Ketika  kau begitu jatuh dalam cinta, itu sama artinya kau terjebak dalam api yang membara. Api yang membakar sekujur jiwamu, Tak ada lagi tempatmu berlari. Api cinta terus mengikutimu, membelenggumu, membuatmu hangus terbakar. Dan saat kau menyadarinya, semua telah terlambat. Tak ada pilihan untukmu selain meluruh bersamanya menjadi abu. 

Begitupun aku.

Saat kita begitu mencintai seseorang, terkadang kita lupa mencintai diri sendiri. Rela terluka demi cinta yang kita pikir akan memberi kebahagiaan. Tapi jalan takdir manusia tak selalu seperti yang kita inginkan. Kau yang semakin tak perduli, dan aku yang semakin berlebih mencintaimu. Kau yang terus menjauh, dan aku yang semakin kelelahan berusaha meraih pelukmu. Lalu di titik mana pada akhirnya kita akan menyatu? 

Atau memang sudah waktunya aku berhenti. Kembali membenahi hati. Menyiapkan ruang di dalam hati untuk sebuah keikhlasan. Keikhlasan untuk melepasmu. Aku yang telah meng-abu, sudah terlambatkah untuk semua itu...