Jumat, 12 Agustus 2011

Perempuan Hujan

Padamu yang sedang duduk di atas awan. Wajahmu layu. Masih tampak sisa air mata yang mengering di pipimu. Bersembunyi dibalik hitamnya awan. Sorot matamu sendu menatap. Menusuk hatiku. Dan tiba-tiba ada luka ikut memerih di situ.

Kamu yang selembut angin. Tak nampak tetapi selalu terasa dingin saat menyentuh. Aku mencintaimu, perempuan hujan. Tak perlu kau hiraukan mereka. Mereka tak mengerti cinta. Selalu memandang hanya dari mata mereka. Tak mampu merasa apa yang kita rasa.

Bukankah cinta selalu mengerti.

Dan kini, lepaskan semua bebanmu. Mencintalah dengan jujur. Aku berikan hangatku padamu, dan kau berikan air matamu untukku. Pada akhirnya seperti mawar yang membutuhkan hangat mentari dan tetes hujan, cinta kita tumbuh mewangi bukan ?

Menikahlah denganku. Kita jemput bahagia. Menikah di bawah hujan. Diantara tetes airnya. Membiarkan beningnya membasahi seluruh tubuh kita. Mengalir. Membawa semua duka yang pernah ada. Hingga yang tertinggal hanyalah bahagia. Kau dan aku.

Setelahnya kita bangun rumah cinta kita. Jadilah hujan setiap hari. Dan aku akan menjadi mentari. Bersama kita ciptakan pelangi. Tempat kita bermesraan di setiap bilangan hari. 

Lupakan mereka. Hanya ada aku, kau, dan cinta kita.

Itu cukup...
---


Terkadang dalam hidup, untuk bahagia kau hanya perlu "jujur mencinta"
Tak membutuhkan selainnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar