Rabu, 29 Juni 2011

Petrichor

Aku jatuh seperti hujan yang menitik yang akhirnya meresap dalam butir-butir tanah dan menemukan tempatnya di sisi titik hujan yang lain : kau.

Lalu perlahan aku bergerak menujumu dan kau menangkapku, bersama tanah berdua kita bersenyawa dan menjelma petrichor, menebar wewangian ke segenap penjuru mata angin : cinta kita

Kau dan aku, petrichor yang akan selalu ada sepanjang hujan yang menetes, selama bumi yang berputar, semoga....

Selasa, 28 Juni 2011

Pada Suatu Ketika


Pada suatu ketika...

Aku menjelma menjadi hujan. Dan kau adalah tanah tempatku terjatuh. Terkadang aku menetes lembut, dan kau bersiap menyambutku dengan segala hangatmu. Dengan terbuka. Tanpa alasan. Hanya menerima. Sepenuh hati. Terkadang tubuhku yang serupa jarum begitu deras menghujamimu. Menjatuhi dengan keras. Sementara kau tetap terbuka dan menerima. Tak ada keluh terucap. Tak ada suara. Kata yang kau miliki hanya senyum. Bahasa tubuhmu tetap memeluk. Membiarkan setiap tetes tajam yang terjatuh meresap. Hilang. Berlalu.

Cintakah yang membuatmu menerimaku apa adanya ? Bahkan saat aku menetes deras serupa jarum-jarum yang berlari ke tubuhmu ? Tak ada jawaban. Kau hanya lebih erat memelukku. Mengecupi dinginku. Dan itu cukup menjadi jawaban pertanyaanku.

Setelah tahun yang berlari. Kau tetap menjadi tanah yang menopangku. Dan aku tetap menjadi hujan yang terus jatuh padamu. Begitu, hingga kini.

Pada suatu ketika. Aku menjelma menjadi hujan, dan kau adalah tanah tempatku terjatuh...

Senin, 27 Juni 2011

Berjalan

Terbangun. Dan tiba-tiba saja semua yang belum terselesaikan kemarin mulai masuk ke kepala. Memenuhi pikiran. Membuat pagimu menjadi terasa berat. Pernah merasa begitu ? Jika sudah begini, yang diperlukan adalah udara segar. Keluar. Berjalan. Mencoba menghilangkan sesak yang mulai membeban.

Berjalan. Sepertinya hanya aktivitas simple. Tapi buatku lebih dari sekedar simple. Bukan hanya sekedar menggerakkan kaki belaka. Berjalan memiliki konsep maju, bergerak, dinamis, berubah. Saat kamu berjalan, itu artinya kamu ingin berubah. Bukannya stuck. Dan berubah di sini tentunya untuk yang lebih baik. Entah itu suasana dan pikiran, seperti aku pagi ini, atau mungkin berubah untuk hati dan dirimu sendiri.

Aku tidak suka keramaian. Mungkin itu mengapa aku lebih suka berjalan saat pagi hari. Saat belum banyak aktivitas di sekitarku. Akupun bebas menghirup udara yang ditawarkan pagi. Membuatku lebih tenang. Udara yang kuhirup kemudian kuhembuskan kembali pelan-pelan seperti ikut membawa pergi pikiran-pikiran yang menggangguku pagi ini. Melepaskannya ke udara bebas. Dan menggantinya dengan pikiran-pikiran positif bersamaan udara yang kembali kuhirup.

Terus berjalan berarti terus maju. Apapun yang menghalang. Tak perduli batu dan jalan terjal yang menghalang. Ini artinya kamu memiliki ketetapan hati untuk terus maju dan berjuang. Bukankah begitu hidup ini. Tak perduli apapun yang terjadi hidup harus terus berlanjut. Dan bukannya terjebak pada masalah yang mengganggumu. Terus berjalan, mencari jalan keluar, menemukan pilihan-pilihan yang pada akhirnya mampu mengurai masalah yang mulai mengkusut di pkiranmu.

Berjalan dan kembali jatuh cinta pada pagi, membuatku lega. Paling tidak resah yang membebani pikiran mulai terlepas. Hidup terlalu singkat untuk hanya di isi dengan keluhan atas masalah yang membebani. Terus berjalan dan melangkah, mencoba menghadapi apapun yang menghadang, itu yang akan membuat kita lebih tangguh menghadapi belantara kehidupan ini.

Hei kamu... Temani aku berjalan pagi ini ya...

Sabtu, 25 Juni 2011

Mencintaimu

mencintaimu,
membuatku menjelma menjadi hujan
tak henti jatuh membasahi berandamu
bersama lembut angin kasmaran

mencintaimu,
membuatku menjelma seindah purnama
tak henti meneteskan cahaya rindu sendu
bersama malam yang meluruh bisu

mencintaimu,
membuatku menjelma menjadi kata
tak henti mengalir mengukir puisi cinta
bersama detak nafas yang tanpa menjeda

adakah engkau tahu itu ?

Jumat, 24 Juni 2011

Kekuatan Cinta

 ‎Kalau sudah ada cinta disisimu. Semua kan jadi enteng.
Dan semua yang ada diatas tanah. Hanyalah tanah jua. ~ Imam syafi'i

Kekuatan cinta. Itu yang terpikir di benakku saat membaca kutipan Sang Imam. Cinta sanggup merubah kita menjadi apapun. Melakukan apapun. Begitu hebatnya kekuatan cinta. Sanggup membuat Qais majnun karena cintanya pada Laila. Sanggup membuat Yuliet mengorbankan dirinya sendiri demi Romeo. Atau mungkin kamu punya kisah milikmu sendiri. Cinta yang sanggup membuatmu melakukan apa saja. Bahkan hal-hal teraneh dan tergila sekalipun. Itulah kekuatan cinta.

Kekuatan cinta sanggup  membawa kita kepada kebaikan yang indah. Cinta dengan kekuatannya sanggup membuat seorang hamba memaksa diri bangun di sepertiga malam terakhir dan meninggalkan hangat selimutnya demi menemui cinta Khaliq-nya. Cinta dengan kekuatannya sanggup membuat seorang ibu memberikan air susu dan darahnya demi cahaya mata yang telah dilahirkannya. Cinta dengan kekuatannya sanggup membuat seorang ayah meneteskan keringat demi sebentuk senyum keluarga yang di kasihinya. Cinta dengan segala kekuatannya sanggup membuat seorang pecinta  mengorbankan segala yang dimilikinya demi dia yang dicintainya. Tanpa kekuatan cinta seorang pecinta tak akan pernah melakukan semua itu.

Seperti mawar, dibalik kelembutan dan keindahannya, cinta juga memiliki kekuatan untuk melukai, seperti halnya duri mawar. Terkadang kita begitu terbuai dengan lembut dan indahnya, hingga tanpa disadari telah tertusuk, terluka , dan berdarah. Jika cinta adalah sebuah ujian dari-Nya, disinilah kedewasaan kita di uji. Apakah luka yang ditimbulkannya sanggup membuat kita menjadi pribadi yang membijak. Atau sebaliknya, hanya meninggalkan sekedar luka yang tak berarti.

Semoga bisa belajar. Dari kekuatan cinta.

Kamis, 23 Juni 2011

Patah

  • Saat hati patah, dia ingin belajar membijak. Biarkan dia patah. Biarkan dia membijak. 
  • Saat hati patah, letakkan di tangan-Nya. Dia Maha Tahu yang terbaik untukmu. Pasrahkan 
  • Saat hati patah, pelan-pelan akan tumbuh sayap. Sayap yang akan mengajarimu terbang di ketabahan.
  • Saat hati patah, akan ada jembatan yang menunggumu saat kamu terus melangkah. Jembatan yang akan membawamu menuju hati yang lain. Hati yang lebih mencintaimu.
  • Saat hati patah, kamu akan lebih mengerti arti memiliki.
  • Saat hati patah, kamu akan belajar tentang arti kehilangan.
  • Saat hati patah, hatimu akan belajar untuk tumbuh. Tumbuh lebih kuat dari sebelumnya.
  • Saat hati patah, kamu boleh menangis. Tetes air matamu pelan-pelan akan membersihkan lukamu.
  • Saat hati patah, kamu belajar melepaskan. Disitu kamu akan semakin mengerti tentang keikhlasan.
  • Saat hati patah, tetaplah mencinta. Kamu akan belajar arti ber-besar hati.
  • Saat hati patah, teruslah mendoakannya. Doa-doamu akan membalut luka hatimu.
  • Saat hati patah, datanglah padaku. Aku akan memelukmu. Membantumu menyembuhkan sakitmu.

    Hati yang patah, kamu tidak sendirian.




Rabu, 22 Juni 2011

Selamat Pagi, Hujan

Aku menunggumu, hujan. Beberapa hari ini tak kulihat dirimu. Aku mencarimu di balik awan. Juga di kaki senja. Tapi aku tak menemukanmu. Aku harap kau baik-baik saja. Atau kau sedang terluka. Kau terlalu lama menanti. Penantian itu yang membuatmu luka. Penantian terkadang seperti memiliki duri tajam : ketidakpastian. Itu yang membuatmu terluka. Aku yakin begitu.

Aku tahu rasanya menanti. Sangat. Tahu rasanya bagaimana diam menanti tanpa ada kata pasti. Meski hanya sepotong kata. Begitu berulang kembali esoknya. Menanti. Dan kata yang dinanti tak kunjung tiba. Hingga akhirnya kau terlalu lama menanti. Kakimupun mulai tumbuh akar. Cintamu yang menumbuhkan dan menyuburkannya. Semakin banyak. Semakin menggurita. Dan kau menancap semakin dalam. Tak mampu lagi bergerak. Dan kaupun tetap menanti. Dengan luka mengiringi. Aku tahu rasanya.

Tapi sudahlah. Itu pilihanmu, hujan. Menanti dengan luka mengiringi. Cinta kadang begitu, memiliki luka. Tapi kau akan belajar membalutnya. Belajar mengecup setiap tetes sakit yang mengalir. Saat kau semakin pandai membalut dan mengecup luka, aku yakin kau akan baik-baik saja. Meski mungkin luka itu meninggalkan bekas. Tapi kau akan baik-baik saja.

Hujan, pagi ini aku menantimu. Lagi. Aku tak keberatan kau bersembunyi untuk menyembuhkan luka. Tapi jangan terlalu lama ya... Aku mulai merindukanmu. Cepatlah merintik. Hujani aku. Meski itu tetes lukamu...
---
Note :
Meracau. Saat hujan tak kunjung tiba. Merindunya. Sangat.