Jumat, 11 November 2011

Padamu : (9) Gerimis

Gerimis begitu lembut terjatuh.

Membiarkannya membasahi tubuh kita. Dinginnya membuatmu semakin erat menggenggam tanganku. Aku suka. Tanganku menginginkanmu dengan sangat. Semakin erat kau genggam semakin ia tak ingin kau lepaskan. Dan tak ada satupun alasan untuk melepaskan genggaman darimu.

Kemudian kau menatap kedua mataku. Kau tak menyadari, bening di sana telah bercampur air mataku. Bahkan air matakupun begitu menginginkanmu. Aku menginginkanmu dengan sangat. Dengan segenap jiwaku. Dengan seluruh air mataku.

Kau terus menatapku. Tatapan yang hangat diantara dingin yang dibawa gerimis. Membuatku semakin terhanyut. Aku semakin jatuh cinta pada matamu. Sampai sekarangpun aku tak mampu menjelaskan mengapa aku memilih matamu, dan akupun tak mau memikirkannya. Jatuh cinta kadang begitu. Kau jatuh dan tak pernah mampu menjelaskan kenapa jatuh. Seperti aku jatuh cinta pada matamu, dan tak pernah tahu mengapa begitu.

Seperti tahu apa yang ada di benakku, kau bertanya, "Mengapa kau jatuh cinta padaku?" "Entahlah, mungkin seperti gerimis itu. Dia jatuh dan kita tak pernah tahu pasti mengapa ia jatuh." Yah, mungkin hanya sesederhana itu. Aku jatuh cinta padamu serupa gerimis yang begitu lembut terjatuh ke bumi. Hanya sesederhana itu.

"Aku tak mengerti, kamu aneh", katamu lagi, masih terus menatapku dengan tatapan hangat yang sama. Oh sayang, mungkin aku memang aneh, tapi yang jelas aku jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada hangat tatapan matamu.

Kemudian.

"AKU MENCINTAIMU !" Dengan keras kuteriakkan kalimat itu di antara gerimis. Diantara tatapan matamu yang membuatku semakin jatuh cinta. Dan kau tetap tak mengerti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar