Kamis, 16 Juni 2011

Lampu Merah

Cinta itu terkadang seperti lampu merah di persimpangan jalan. Ada saatnya kamu harus berhenti. Tahu kapan harus kembali melaju. Berhati-hati ketika lampunya menyala kuning mengingatkanmu.

Dalam hidup, terkadang cinta membawamu ke dalam persimpangan. Membuatmu bingung. Tak tahu pasti apa yang mesti di lakukan. Jika ini yang terjadi, tak ada salahnya diam mengambil nafas. Sejenak men'jeda'. Melihat tanda-tanda disekitarnya. Perhatikan lampu yang menyala. Belajar memaknainya. Dan pada akhirnya mengambil keputusan yang lebih bijak. Tanpa ragu dan buru-buru. Keputusan terbaik dari 'jeda' yang kamu lakukan.

Di persimpangan cinta, terkadang lampu menyala merah, memberi peringatan untukmu. Tanda kamu harus berhenti. Terus berjalan hanya akan menghancurkanmu. Menyakiti orang-orang di sekelilingmu. Dan yang pasti akan menyakiti dirimu sendiri. Cinta yang kamu temui kadang begitu. Tak selalu seperti yang kamu harapkan. Bertemu orang yang "salah" misalnya. Atau cinta terlarang. Berhenti. Mematuhi lampu yang menyala merah sepertinya lebih aman. Daripada terus melaju. Menabrak apa yang menghalang. Dan akhirnya terluka.

Lampu cinta menyala kuning tanda kamu harus berhati-hati. Kuning bisa jadi adalah persiapan untuk berhenti. Tapi bisa juga persiapan untuk terus melaju. Untuk itulah kamu harus benar-benar berhati-hati mengambil langkah. Jangan sampai salah duga. Bersiap melaju padahal sebenarnya harus berhenti. Dan sebaliknya. Jeda yang kau lakukan akan membantumu menentukan langkah. Memberitahumu.

Lampu hijau yang menyala terang, tanda kamu boleh jalan terus. Tak ada lagi penghalang. Jangan ragu ambil keputusan untuk maju. Atau seseorang lain akan mendahuluimu, dan lampu merah meyala di hadapanmu. Tak perlu bimbang. Itulah saatnya engkau ditemukan dan menemukan. Ditemukan seseorang yang tulus mencintamu. Dan menemukan seseorang yang sepenuh hati kau cintai. Jika saatnya tiba, dan lampu hijau menyala, pesanku untukmu : mencintalah dan bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar