Jumat, 10 Juni 2011

Jatuh Cinta

When you are sorrowful look again in your heart, 
and you shall see that in truth you are weeping for that which has been your delight.  
~Kahlil Gibran~

Dear "Jatuh Cinta"... Aku tak pernah melupakan bagaimana rasamu saat pertama kamu datang padaku. Tiba-tiba memenuhi perutku, mengelitiki dindingnya, membuat mulas, dan perlahan naik ke atas menyesaki dada. Mungkin saat itu engkau membelah diri, menjadi banyak, memenuhi rongga perutku, meluap sampai dadaku, dan berakhir dengan pipiku yang memanas karena rasa malu bercampur bahagia saat bertemu dengannya. Kau tahu, rasanya aneh. Dan aku berubah pula menjadi aneh. Aku seperti bukan diriku lagi. Memikirkan hal-hal aneh dan melakukan hal-hal yang aneh. Setelah sekian waktu berlalu, aku menjadi mengerti, mengapa orang mengatakan "jatuh cinta bisa merubah siapapun". Mungkin itu yang terjadi. Kamu merubahku menjadi aneh. Tapi aku suka. Menikmatinya.

Waktu terus berputar. Kamupun pergi. sepertinya kamu tak betah berlama-lama tinggal di perut dan dadaku. Juga pipiku. Atau mungkin 'luka' mengusirmu. Luka memang tak tahu diri, begitu saja merebut tempatmu dan menggantikannya dengan rasa sakit dan air mata. Meski dia juga memenuhi dadaku, tapi rasanya sakit. Dia juga membuat pipiku memanas, tapi bukan karena malu bercampur bahagia, melainkan karena menangis.Tapi tak mengapa, saat kamu pergi luka mengajariku untuk tumbuh. Ternyata dia tak begitu jahat seperti perkiraanku sebelumnya.

Beberapa hari yang lalu sang waktu mengirimkan kembali dia yang pernah membuatmu dan luka datang padaku. Aku mencari-carimu. Di perut dan dadaku. Tapi aku tak menemukanmu. Padahal aku merindukanmu. Aku ingin menyapamu. Mungkin hanya sebatas menanyakan kabarmu. Dimana kau berada sekarang, apakah sedang menempati perut, dada, dan pipi seseorang yang lain ? Aku yakin begitu..

Lalu hari ini aku terbangun. Ada sesuatu yang aku rasakan. Pipiku yang memanas. Tapi sepertinya itu bukan kamu, karena aku tak merasa sedang malu ataupun bahagia. Tiba-tiba sudut mataku yang mengembun memberitahuku apa yang telah terjadi. Ternyata bukan dirimu yang datang, tapi luka. Aku tak tahu pasti mengapa luka yang datang dan bukannya kamu. Aaah... Aku tak mau menyimpan pikiran buruk. Mungkin luka itu datang agar aku semakin pandai mema'afkan. Ada yang belum terselesaikan di antara kami, aku rasa luka datang untuk menyelesaikannya. Tulus mema'afkannya dan lukapun akan segera pergi seperti halnya dirimu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar